Bagaimana Matin Kim Menjadi Brand Fashion Favorit Idol Favoritmu

Oleh Andrea Sacal

Ada jenis cool ala Seoul yang terlihat seperti kamu tidak terlalu berusaha, padahal jelas-jelas outfit-nya menunjukkan sebaliknya. Matin Kim sudah sangat menguasai formula itu. Knit yang distressed, jaket oversized, atasan mungil, hardware berwarna perak, denim yang longgar, dan logo metal yang langsung dikenali telah membantu mengubah label Korea ini menjadi salah satu andalan terbesar di K-fashion. Gaya-gaya Matin Kim yang mengikuti tren tetap terasa nyaman untuk dipakai sehari-hari, tetapi pada kenyataannya, pakaian Matin Kim ditujukan untuk mereka yang ingin terlihat keren tanpa tampak seperti menghabiskan 45 menit hanya untuk memikirkan cara mencapainya.

MOMO dari TWICE adalah idol terbaru yang masuk ke dunia Matin Kim, sekaligus menjadi wajah untuk koleksi Fall 2026 “IN MY COLOR”.

Ia mengikuti jejak JENO dari NCT, yang membintangi kampanye Summer “No Rush!” milik brand ini, sementara Liz dari IVE dan Ningning dari aespa juga telah tampil dalam kampanye musiman terbaru. Pada titik ini, Matin Kim sedang membangun daftar idol yang cukup besar untuk menaklukkan runway di Seoul, Milan, dan Paris.

Bahasa desain Matin Kim memadukan minimalisme dengan tepian yang sengaja dibuat kasar. Siluetnya bisa oversized atau cropped, denim-nya distressed, knitwear-nya terlihat sedikit lived-in, dan detail utilitarian menyela potongan yang sebetulnya bersih. Palet warnanya sering kali tetap netral, sehingga tekstur, proporsi, dan branding metalik yang berbicara.

Dari baby tee ikonik berlogo Matin Kim hingga kolaborasi terbaru bertema baseball yang dicoret-coret bersama LG TWINS, label lifestyle edgy ini meracik tampilan favorit K-pop bagi fans dan idol sekaligus, dan melakukannya dengan harga yang tergolong mudah dijangkau. Saat seorang idol mengenakan Matin Kim, jarak antara kekaguman dan pembelian bisa terasa nyaris seketika.

Rapper Korea Selatan JENO dengan berani menempatkan formula aksesibel brand ini di sorotan internasional, dan hasilnya terlihat sangat menonjol pada awal tahun ini.

Untuk kampanye “No Rush”, Matin Kim tidak mengubah member NCT itu menjadi karakter high-fashion yang sulit dikenali. Sebaliknya, pakaian yang dipilih justru memperkuat kualitas yang selama ini sudah melekat pada citra off-duty-nya: santai, maskulin, dan streetwear yang terasa effortless. T-shirt knit distressed, cotton zip-up, lapisan grafis, dan Bermuda shorts yang longgar membentuk tampilan yang menangkap cool kasual khas JENO. Matin Kim menggambarkan kampanye ini sebagai perpaduan antara kehadiran JENO sendiri dan sensibilitas brand yang lebih kasar. Responsnya datang cepat, dengan penjualan kumulatif untuk musim Summer 2026 Matin Kim naik sekitar 150% dibandingkan tahun sebelumnya. Partisipasi adalah inti dari fandom K-pop, dan Matin Kim memberi kesempatan kepada fans untuk ikut dengan mudah melalui pemakaian item yang sama seperti idol favorit mereka.

Jika JENO mewakili sisi Matin Kim yang lebih kasar dan santai, MOMO memberi kesempatan bagi brand ini untuk bergerak ke arah yang kontras. Bintang TWICE ini telah menghabiskan bertahun-tahun berpindah antara busana panggung yang sangat feminin, siluet sensual, dan wardrobe off-duty, menjadikannya pasangan yang sempurna untuk brand yang mendefinisikan dirinya sebagai serba multifaset.

Kampanye Fall 2026 “IN MY COLOR” memancarkan aura santai khas MOMO, tanpa pernah meninggalkan aura cool-nya yang tak terbantahkan. Dari cargo berwarna ungu pudar hingga knitwear berlogo dan jaket bomber distressed, MOMO membawa warna ke dalam keseharian Matin Kim. Ambisi global Matin Kim tidak dimulai dari MOMO atau JENO. Pada 2025, brand ini sudah menguji jangkauannya di luar Korea melalui kampanye influencer yang mencakup AS, UK, Meksiko, dan Polandia, yang menghasilkan 20 juta views dan membantu mendorong kenaikan penjualan luar negeri sebesar 121%. Momentum itu datang setelah bertahun-tahun pertumbuhan pesat, dengan penjualan naik dari ₩5 miliar pada 2020 menjadi ₩150 miliar pada 2024. Saat JENO dan MOMO masuk ke dalam cerita pada 2026, Matin Kim bukan sedang mencoba menjadi nama K-fashion internasional, melainkan sudah berada jauh di jalur menuju ke sana.

Mungkin hal paling menarik dari Matin Kim adalah bahwa bahkan perusahaan ini mengakui tidak ada satu tampilan Matin Kim yang benar-benar definitif. Direktur strategi Hago Haus, Lee Jun-seong, menjelaskan bahwa label ini secara aktif memantau masukan dari komunitas online mereka, lalu memasukkan saran tentang warna, produk, dan restock ke dalam keputusan-keputusan berikutnya. Alih-alih mendikte selera dari atas ke bawah, Matin Kim memberi kesempatan kepada audiensnya untuk ikut membentuk seperti apa brand ini nantinya. Kekuatan terbesar K-pop selalu terletak pada kemampuannya mengubah audiens menjadi komunitas, dan Matin Kim menemukan hubungan yang sangat mirip dengan fashion. Pelanggannya bukan sekadar mengonsumsi brand ini: mereka ikut memengaruhi realitasnya.

Fashion mewah telah menghabiskan beberapa tahun terakhir untuk menyadari besarnya kekuatan budaya K-pop. Matin Kim memahami sesuatu yang sedikit berbeda: kekuatan sebenarnya bukan sekadar menempatkan idol dalam pakaian buatanmu. Melainkan membuat fans merasa bahwa pakaian itu juga cocok untuk dunia mereka. Seorang idol bisa membawa jaket, tas, atau knit distressed Matin Kim dan memberinya kepribadian yang sama sekali berbeda, sementara brand ini tetap cukup aksesibel bagi fans untuk benar-benar meniru tampilannya, bukan sekadar menyimpannya di papan Pinterest.

JENO bisa membawa energi streetwear yang santai, MOMO bisa bergerak antara femininitas yang polished dan cool ala off-duty, dan pakaian Matin Kim menyesuaikan diri dengan keduanya. Fleksibilitas itulah yang membuat pendekatan fashion K-pop yang makin individualistis terasa sangat cocok untuk label ini. Saat Matin Kim terus melangkah melampaui Seoul, para ambassador idol menyediakan komunitas yang memang sudah melintas batas negara. Bagi Matin Kim, K-pop bukan sekadar jalan pintas menuju visibilitas. Ini adalah kelanjutan alami dari struktur brand itu sendiri: Korea di intinya, global dalam ambisinya, dan dibangun untuk generasi yang ingin ikut berpartisipasi, bukan sekadar mengagumi.

Cart

×