OnlyOneOf: Pergi Untuk Saat Ini, Bukan Selamanya
by Hasan Beyaz

Ini resmi: OnlyOneOf telah mencapai akhir sebuah era.
Minggu ini, 8D Entertainment mengonfirmasi bahwa kontrak eksklusif grup tersebut telah berakhir, menandai berakhirnya secara resmi aktivitas mereka di bawah agensi. Keenam member — Nine, Mill, Rie, Junji, Yoojung, dan KB — kini menapaki jalan baru, dengan laporan bahwa mereka sedang bersiap untuk proyek solo, peran akting, dan berbagai langkah baru di luar nama OnlyOneOf.
Selama bertahun-tahun, OnlyOneOf berdiri di persimpangan antara seni dan hal tabu — grup yang menantang seperti apa seharusnya penampilan dan suara seorang male idol. Kini, dengan kontrak mereka yang telah berakhir, eksperimen itu memasuki jeda yang pahit sekaligus manis.
Namun, akhir tidak selalu berarti kehilangan. Ada yang merupakan jeda. Ada pula yang menjadi pembuka. Dan jika ada grup yang layak mendapat momen refleksi, itu adalah OnlyOneOf — salah satu grup paling berpengaruh secara halus, dan paling berani secara konsep, dari generasinya.
Debut
Saat OnlyOneOf debut pada 2019 dengan savanna, mereka bukan sekadar memperkenalkan boy group baru — mereka mengusulkan cara berbeda untuk menjadi satu. Nama mereka, yang berarti “satu-satunya dari seseorang,” mengisyaratkan dualitas yang kemudian mereka wakili: individual namun kolektif, sensual namun intelektual, provokatif namun puitis.
Sejak awal, musik mereka membawa jejak kreativitas mereka sendiri. Para member turut berkontribusi dalam penulisan lagu dan produksi, membentuk suara yang memadukan electronic R&B, art-pop, dan tekstur underground club. Awalnya di bawah arahan kreatif Jaden Jeong, mereka membangun apa yang disebut konsep “ubersexual” — sebuah dunia yang membingkai hasrat, kerentanan, dan keintiman emosional melalui lensa artistik yang jarang diberikan kepada pria di K-pop.
Ini adalah visi yang terasa berisiko tetapi perlu, menempatkan mereka di ruang niche di antara idol group eksperimental dan proyek seni. Bahkan sejak saat itu, intinya sudah jelas: OnlyOneOf bukan mengejar tren. Mereka sedang membangun sebuah bahasa.
Masa Naik Daun
Dunia mulai memperhatikan pada 2021.
Dengan Instinct Part. 1 dan title track libidO, OnlyOneOf memicu salah satu momen budaya paling diperdebatkan — sekaligus paling menentukan — dalam ingatan K-pop modern. Koreografi lagu itu, yang menampilkan para member saling berkelindan dan menarik benang-benang ketegangan yang tak terlihat, memancing banyak berita karena kedekatannya. Namun di balik kejutan permukaan itu ada sesuatu yang lebih dalam: sebuah studi tentang represi, kerinduan, dan naluri manusia.
Mereka menolak mundur. Grup ini membela libidO sebagai seni yang memiliki maksud, bukan provokasi demi provokasi itu sendiri. Keyakinan itu membuahkan hasil. Instinct Part. 1 menjadi rilisan terlaris mereka hingga saat ini dan menandai titik balik dalam bagaimana queer, sensualitas, dan maskulinitas dapat hadir bersama dalam performa idol.
Di momen inilah OnlyOneOf juga mulai membangun basis penggemar queer yang setia — bukan lewat pemasaran, melainkan lewat pengakuan. Estetika dan storytelling mereka, yang tak ragu menampilkan kelembutan antarsesama pria, beresonansi dengan pendengar LGBTQ+ yang mendambakan representasi dalam sistem yang biasanya menghindari tema seperti itu. Penampilan mereka tidak terasa seperti fanservice; justru terasa seperti bentuk reclaiming.
Di tengah kenaikan ini, tragedi hadir dalam bentuk yang lebih sunyi. Pada Agustus 2021, leader Love meninggalkan grup karena alasan pribadi. Kepergiannya mengubah dinamika grup, tetapi enam member yang tersisa terus melangkah, dengan chemistry yang menjadi lebih introspektif dan tanpa filter.
Puncak
Antara 2022 dan 2024, OnlyOneOf memasuki fase emas mereka. Itu adalah periode yang ditandai oleh kreativitas tanpa henti, ekspansi lintas budaya, dan ketepatan konsep.
Debut Jepang mereka datang lebih dulu: OnlyOneOf Japan Best Album pada Januari 2022, disusul cepat oleh Instinct Part. 2 dan title track Skinz — lagu anthem metalik yang berdenyut tentang individualitas dan pembebasan diri. Grup ini menggelar konser Jepang pertama mereka di Zepp DiverCity Tokyo sebelum merilis Suit Dance (Japanese ver.), yang masuk Oricon Top 5.
Lalu hadir proyek ambisius undergrOund idOl: enam bulan perilisan solo yang mengupas setiap member hingga ke inti kreatif pribadinya. Dari Begin milik Yoojung yang emosional hingga Be Free milik KB yang memadukan berbagai genre, dari Because milik Rie yang lembut hingga Beat milik Mill yang ritmis, proyek ini memperlihatkan dunia batin masing-masing member dengan kedekatan yang jarang terlihat dalam rilisan idol. Eksperimen itu memuncak dengan Beyond milik Nine, menutup lingkaran konsep yang mengaburkan batas antara performer dan auteur.
Secara paralel, mereka mencoba akting lewat web series queer Bump Up Business, di mana semua member ikut tampil — sebuah keputusan yang menegaskan kembali kesediaan mereka untuk terlibat dengan storytelling bernuansa queer di ruang yang masih menganggapnya tabu.
Pada 2023, suara dan visi OnlyOneOf telah mencapai bentuk penuhnya. seOul cOllectiOn, yang dirilis pada Maret, menggambarkan anak-anak muda yang hanyut di tengah lanskap emosional dan fisik kota. Ditulis bersama dan digubah sebagian besar oleh KB dan Nine, album ini memadukan R&B yang halus dengan ambience eksperimental, menjahit kisah kehilangan, hasrat, dan pencarian jati diri.
Grand America Tour mereka pada musim semi itu ludes di banyak kota, tampil di hall, teater, dan klub dalam 16 tanggal tur di kawasan tersebut.
Tahun berikutnya, mereka melangkah lebih besar lagi. Tur dunia “dOpamine” mencakup 33 kota di Asia, Amerika, Eropa, dan Australia, mengukuhkan warisan mereka sebagai ikon kultus global. Tur itu secara khusus menampilkan malam yang penuh euforia dan sangat khas mereka di Heaven, London — sebuah klub malam queer yang bersejarah dan simbol kebebasan artistik. Itu adalah momen yang terasa begitu puitis dan berputar penuh: grup yang pernah mempertaruhkan segalanya demi ekspresi diri berdiri di salah satu venue queer paling legendaris di dunia, dipeluk oleh audiens global yang melihat mereka bukan sebagai kontroversi, melainkan sebagai komunitas.
Jika dipikir kembali, mustahil untuk tidak melihat dOpamine sebagai pernyataan besar terakhir mereka sebelum semua yang terjadi setelahnya. Bab penutup sebelum wajib militer dan jeda tak terhindarkan yang begitu sering menyela cerita K-pop. Melihat ke belakang, tur itu kini terbaca seperti arsip hidup — cuplikan sebuah grup yang sedang mekar sepenuhnya, sadar akan ketidakabadian segalanya namun tetap memilih untuk membakar lebih terang karenanya. Ini pengingat betapa singkatnya euforia kolektif, dan betapa mudahnya kita menganggap remeh para artis yang mendefinisikan ulang batasan saat mereka masih berdiri di depan kita.
Retakan
Lalu tibalah 2025.
Setelah merilis digital single Stay, grup ini memasuki apa yang kemudian menjadi tahun terakhir yang penuh gejolak. Tur Amerika Utara “Our Only Odyssey” mereka menuai reaksi keras dari fans yang memprotes dugaan penanganan promoter terhadap keselamatan dan refund di masa lalu. Sebagian fans melancarkan boikot; yang lain membela grup, terjebak di antara loyalitas dan etika.
Nine secara terbuka menanggapi ketegangan itu, mengakui kekhawatiran yang ada tetapi meminta empati. Tanggapannya menunjukkan kelelahan — bukan karena seninya, melainkan karena politik yang mulai melahapnya.
Apa yang dulunya merupakan simbiosis antara artis dan basis penggemar berubah menjadi retak — pengingat bahwa transparansi radikal, meski langka dan berani, sering kali datang dengan harga mahal.

Beberapa minggu kemudian, “JamieGate” meledak: perselisihan kacau selama berbulan-bulan yang melibatkan KB dan seorang fans berprofil tinggi, lalu berkembang menjadi tuduhan, pesan bocor, dan ledakan emosi di livestream. Apa yang dimulai sebagai salah kelola hubungan parasosial berubah menjadi runtuhnya fandom. Semua itu terasa sangat berantakan dan terjadi di depan publik — kontras yang tajam dengan kesan rapi yang dulu mendefinisikan citra OnlyOneOf.
Menjelang pertengahan tahun, tanda-tandanya sudah tak terbantahkan. Para member dilaporkan pindah dari asrama. 8D Entertainment diam. Dan ketika year bOOk, sebuah photobook peringatan, dirilis, fans membacanya seperti surat perpisahan.
Saat debu akhirnya mereda, OnlyOneOf telah menjadi sesuatu yang lebih besar daripada sekadar grup — sebuah cermin yang memantulkan sekaligus kemungkinan dan kerentanan dari menjadi idol di era modern.
Meski begitu, serpihan identitas mereka tetap bertahan. Pemotretan KB yang semakin avant-garde — termasuk satu penampilan viral dengan celana pendek denim, cowboy boots, dan kaus crop bertuliskan “I Love My Hot Guy” — menjadi pernyataan ekspresi diri di luar norma idol. Nine terus mengunggah cover lagu, diam-diam menjaga DNA musik grup tetap hidup.
Bahkan dalam proses perpecahan, mereka tetap ekspresif.
Apa Selanjutnya
Ada sesuatu yang indah terjadi di tengah kabar ini.
Mill mengunggah foto keenam member dengan satu kata: Forever. Di Fromm, ia meyakinkan fans bahwa OnlyOneOf belum berakhir.
Meski aktivitas grup mereka di bawah 8D secara resmi telah selesai, rumor mengarah pada reuni pada 2028, setelah semua member menyelesaikan wajib militer. Nine bahkan sempat menyebut rencana proyek sub-unit bersama KB saat fanmeeting Agustus.
Menurut Yoojung, grup chat mereka masih aktif — dan rupanya, Rie yang paling banyak bicara. Itu detail kecil, tapi bermakna: garis antara masa lalu dan masa depan belum sepenuhnya tertutup.
Mungkin itu yang membuat akhir ini layak dirayakan. Bukan karena ia rapi atau sinematik, melainkan karena ia nyata. OnlyOneOf hidup dalam ketegangan — antara seni dan audiens, pengekangan dan pemberontakan, keintiman dan keterbukaan. Tidak banyak idol group yang memikul beban itu dengan begitu anggun, atau dengan kesetiaan yang begitu keras kepala pada keaslian.
Yang membedakan mereka bukan dominasi komersial, melainkan konsistensi. Setiap era OnlyOneOf terasa penuh maksud, diikat oleh benang merah kejujuran sensual dan kepenulisan kreatif. Seni mereka hidup dalam nuansa — dalam ketegangan antara apa yang bisa ditampilkan dan apa yang tidak. Mereka mungkin bukan yang paling keras suaranya, tetapi mereka termasuk yang paling berani.
Mereka memperluas seperti apa performa pria di K-pop bisa terlihat. Mereka membuka ruang untuk percakapan tentang queer dan keintiman emosional yang masih ragu-ragu dihadapi industri. Mereka mengubah kontroversi menjadi dialog.
Jadi ya, kontrak mereka telah berakhir. Namun seni yang begitu khas tidak habis masa berlakunya. Mungkin sekarang mereka terpencar, tetapi bahasa yang mereka bangun — bahasa tentang kejujuran, ketegangan, dan sentuhan — masih terus berbicara.
Pergi, seperti yang kita kenal, untuk saat ini. Tapi bukan selamanya.