Oleh Hasan Beyaz
Brave New World milik Luli Lee adalah sebuah EP yang dibentuk sama kuatnya oleh waktu dan perspektif seperti oleh suara, dan catatan per-lagu Lee — yang dibagikan secara eksklusif dengan KPOPWORLD — mengungkap proses kreatif yang berakar pada rasa ingin tahu dan ide-ide lama yang akhirnya menemukan momennya.
Beberapa lagu di EP ini dimulai bertahun-tahun sebelum akhirnya selesai.
Demo dan sketsa yang belum selesai dibiarkan diam, dan ide-ide ditangguhkan sampai mereka selaras dengan pola pikir Lee saat ini. Yang menyatukan Brave New World bukanlah narasi tetap, melainkan kesediaan bersama untuk kembali mengunjungi masa lalu tanpa rasa nostalgia — untuk menanyakan apakah sebuah ide masih beresonansi, dan apakah sekarang bisa diekspresikan dengan lebih jujur.
Rasa bermain itu mengalir melalui keempat lagu di album ini, bahkan ketika paling konfrontatif. “You'll Be My Mad Dog,” dengan segala sikap agresifnya, muncul dari dorongan yang sengaja ringan. Lee menggambarkan keinginannya agar lagu ini terasa menyenangkan, membangun identitasnya di sekitar suara-suara mirip knalpot dan nada bass yang terdorong. Bagi yang mendengarkan dengan teliti akan mendengar suara sirene di latar; ini bukan sesuatu yang direncanakan, melainkan tertangkap secara tidak sengaja saat sesi demo dan dipertahankan karena terasa pas. Hasilnya adalah lagu yang terdengar kuat tapi dibuat tanpa keseriusan berlebihan.
Perspektif bergeser lagi pada “King of the New World,” di mana Lee bereksperimen tidak hanya dengan suara, tetapi juga dengan cara penyampaian. Bernyanyi di ruang antara narasi dan rap, ia memperlakukan vokal sebagai ritme daripada melodi, memperkuat gagasan bahwa perubahan tidak selalu memerlukan gestur besar — terkadang dimulai dari sedikit penyesuaian pada cara sesuatu diucapkan.
“OCD” membawa EP ini ke wilayah yang lebih berakar. Awalnya ditulis bertahun-tahun lalu, lagu ini menemukan relevansi baru seiring hubungan pribadi Lee dengan tema lagunya berevolusi. Di sini, sensasi fisik didahulukan daripada penjelasan, dengan bass dan drum bergerak selaras. Fokusnya bukan pada penceritaan, melainkan pada bagaimana pengulangan, ketegangan, dan pelepasan diwujudkan melalui suara.
EP ditutup dengan “Unknown Artist,” sebuah lagu yang meruntuhkan jarak antara masa lalu dan masa kini. Berbeda dengan karakter yang dilebihkan pada lagu-lagu sebelumnya, lagu ini mencerminkan kehidupan nyata Lee; sebuah kembalinya ke realitas daripada pertanyaan terbuka. Diselesaikan dengan suara yang akrab bagi pendengar lama, lagu ini berfungsi sebagai titik yang menengahkan, menyiratkan kesinambungan daripada penutupan.
Secara keseluruhan, Brave New World adalah proyek tentang mengenali saat sebuah ide, sebuah suara, atau sebuah lagu akhirnya siap untuk ada.
You'll Be My Mad Dog
Lagu pertama yang dirilis dari album adalah “You'll Be My Mad Dog.”
Lirik dan judulnya berasal dari tempat yang sederhana—aku hanya ingin lagu itu terasa menyenangkan, main-main, hampir seperti lelucon.
Dari sketsa pertama, aku punya tujuan yang jelas: menciptakan sebuah karya yang dibangun di sekitar suara-suara yang mengingatkan pada knalpot mobil. Itu sebabnya lagu ini dibuka dengan suara seperti knalpot, menetapkan identitasnya sejak awal, dan mengapa aku membentuk bass dengan tone yang terdorong. Bahkan pada bagian yang hanya instrumen—meskipun mungkin sulit disadari—suara knalpot itu tetap ada.
Sirene samar yang bisa kamu dengar datang dari momen nyata saat aku sedang memonitor demo. Sirene ambulans yang lewat masuk ke dalam rekaman, dan terasa cocok untuk lagu ini. Karena itu aku memutuskan memasukkan suara sirene ke dalam aransemen akhir.
King of the New World
Aku ingin mengeksplorasi gagasan bahwa dunia baru bisa terbuka dengan mengejutkan mudahnya, melalui satu pergeseran perspektif. Selain itu, tema mendasar lagu ini adalah pesan untuk orang-orang yang pernah menyakitiku.
Karena aku tidak ingin album terasa terlalu serius, aku mendekati lagu ini dengan cara yang juga bermain-main. Untuk bagian chorus, aku mencoba sesuatu yang benar-benar baru bagiku—bernyanyi di ruang yang berada di antara narasi dan rap. Aku ingin itu terasa kurang sebagai melodi konvensional dan lebih seperti kata-kata yang ritmis.
OCD
Lagu ini juga dibuka dengan garis bass yang terdorong dan menceritakan tentang perjuanganku dengan OCD. Awalnya aku membuatnya sebagai demo setelah menonton film zombie ketika aku berumur awal hingga pertengahan dua puluhan, dan aku menyimpannya sejak itu sebelum akhirnya memasukkannya ke album ini.
Setelah menggeser perspektif dan menemukan dunia baru, OCD-ku mulai mereda, itulah sebabnya aku merasa lagu ini akhirnya layak ditempatkan di rekaman. Saat aku memainkan bass, aku menemukan interaksi dengan drum sangat menarik—aku suka menyelaraskan detail permainan bass-ku secara dekat dengan garis drum. Jika kamu mendengarkan dengan memperhatikan interaksi itu, aku pikir lagu ini akan terungkap dengan cara yang jauh lebih kaya.
Unknown Artist
Ini adalah lagu lain yang pernah kusketsa di usia dua puluhan tapi dibiarkan tak selesai untuk waktu yang lama. Secara kebetulan, aku mendengarkan lagu itu lagi setelah bertahun-tahun melupakannya, dan rasanya tidak berbeda dari tempat aku berada dalam hidup sekarang.
Jika tiga lagu sebelumnya condong ke arah fantasi, aku melihat lagu ini berakar pada realitas. Aku ingin mengekspresikan rasa kebebasan dan pelepasan untuk lagu-lagu yang "mati" setelah bertemu denganku sebagai seorang unknown artist, dan aku mencoba menangkap perasaan itu melalui suara drum tom.
Karena lagu-lagu sebelumnya mengeksplorasi suara yang sedikit berbeda dari karya-karyaku sebelumnya, aku ingin lagu ini—yang mencerminkan realitas—terasa akrab bagi para pendengar lamaku.