Oleh Andrea Sacal
Bergabungnya JISOO dengan Salomon sebagai global brand ambassador pada 28 Mei 2026 adalah jenis pengumuman yang langsung membuat industri fashion menegakkan badan. Sekilas, ini tampak seperti perpindahan dari bangsawan front row Paris Fashion Week ke sepatu teknis, outerwear tahan cuaca, dan sepatu pendaki gunung berdaya cengkeram tinggi. Tapi, habiskan lima menit memikirkan keselarasan JISOO dengan Salomon, dan Anda akan mulai melihat momen ini bukan sebagai langkah menjauh dari cetak biru luxury, melainkan sebagai kedatangan K-pop ke dalam sneaker culture.
Salomon meresmikan kemitraan ini awal tahun ini, sejak awal memposisikannya sebagai hubungan kreatif jangka panjang, bukan kampanye musiman. Posisi brand-nya jelas: kolaborasi ini mengacu pada budaya alfresco di trail — tepat sejalan dengan arah Salomon sepanjang dekade ini. Global VP of Product and Experience Salomon, Kristof Cavazzana, menyampaikan kerja sama ini secara gamblang, menggambarkan JISOO sebagai sosok yang menuliskan definisi baru untuk sportswear. “JISOO mewakili generasi yang merangkul keterbukaan, rasa ingin tahu, dan fluiditas antara olahraga dan fashion,” ujar Cavazzana. “Perspektif dan pengaruh globalnya selaras dengan bagaimana Salomon terus berevolusi hari ini, membawa warisan pegunungan, gaya hidup luar ruang, dan style ke dalam percakapan budaya yang lebih luas.”
Jika Anda bertanya-tanya bagaimana vokalis utama BLACKPINK yang menghabiskan lima tahun sebagai wajah front row Dior yang paling efektif secara komersial bisa berakhir di gorpcore, jawabannya adalah: dia memang selalu jauh lebih serbaguna daripada yang terlihat dari kemasan luxury-nya. JISOO telah menyandang status global ambassador Dior sejak 2021, tetapi rumah mode mewah yang kini dipimpin Jonathan Anderson itu bukan satu-satunya institusi yang ada di radar-nya. Global ambassadorship-nya untuk Alo Yoga, yang dimulai pada Januari 2024, berkembang menjadi kolaborasi produk yang nyata dalam waktu setahun — menghasilkan Alo Sunset Sneaker warna Bloom Pink, lengkap dengan konstruksi suede, tali sepatu yang bisa diganti, dan charm Shumon berbentuk bintang. Salomon adalah evolusi alami bagi seorang bintang K-pop yang memadukan activewear, luxury, dan street culture ke dalam playbook fashion yang semakin luas.
JISOO tumbuh besar di Korea Selatan dekat pegunungan, dan konsisten berbicara tentang alam sebagai sumber pijakan dan kebebasan, bukan sekadar latar untuk olahraga petualangan. Menurutnya, yang ia hargai dari Salomon adalah keseimbangan antara fungsi, gerak, dan style — sebuah kalimat yang bisa saja menjadi misi gorpcore itu sendiri. Visual kampanye JISOO x Salomon menonjolkan gagasan soal item luar ruang yang dipakai dengan santai dan sneaker teknis yang ditata secara simpel — layering bersih yang cocok dipakai di blok kota maupun jalur pegunungan tanpa perlu menjelaskan ditujukan untuk yang mana. Salomon menampilkan JISOO dengan volume yang dikecilkan dan resolusi yang dinaikkan.
Kemitraan ini dirancang untuk berlanjut ke kolaborasi produk dan kreatif di masa depan, dengan detail yang masih belum diungkap. Melihat apa yang JISOO hasilkan bersama Alo — sneaker yang sold out, menciptakan ekosistem pop-up-nya sendiri, dan memberi fans sesuatu untuk dimiliki, bukan sekadar dilihat — peluang hadirnya momen footwear JISOO x Salomon bukanlah angan-angan. Itu adalah kalimat berikutnya yang paling masuk akal dalam kemitraan yang menempatkan JISOO di batas hubungan K-pop dengan sneaker culture. Dari kerajaan PEACEMINUSONE x Nike milik G-DRAGON hingga Rosé yang mempromosikan siluet arsip PUMA sejak 2024, para idol memimpin perluasan sneaker culture melampaui para kolektor — memungkinkan fandom menghubungkan sepatu favorit mereka dengan bintang favorit mereka.
JISOO bukan satu-satunya yang menapaki wilayah ini. Namun, dia adalah idol pertama yang secara spesifik menancapkan bendera di ruang gorpcore dan outdoor performance. Di sekelilingnya, ekosistem sneaker yang lebih luas yang melibatkan nama-nama terbesar K-pop telah tersusun dengan kecepatan luar biasa. Felix dari Stray Kids diumumkan sebagai global ambassador adidas Originals pada Maret 2026, memimpin kampanye SS26 “Urban Street” yang secara eksplisit mengeksplorasi pertemuan K-pop dan streetwear. Karina dari aespa memiliki global ambassadorship miliknya bersama Nike, sementara Winter membangun hubungan dengan New Balance secara diam-diam dan konsisten, menempati sisi brand yang lebih understated. Di tempat lain, Lisa menjadi wajah kolaborasi Nike x Skims pada Februari 2026, dalam momen yang mengaburkan garis antara pakaian atletik dan lingerie mewah. Kolaborasi sneaker J-Hope dengan Louis Vuitton saat ini sedang dikembangkan, yang berarti bahkan rumah mode luxury paling formal di orbit K-pop pun bergerak menuju footwear sebagai frontier berikutnya. Lanskap ini menandakan bahwa penunjukan JISOO oleh Salomon bukanlah anomali, melainkan ekspresi terbaru dan paling spesifik dari pergeseran kolektif: K-pop adalah wajah baru sneaker culture.
Industri fashion telah menghabiskan hampir satu dekade untuk menyaksikan K-pop membentuk ulang kemitraan brand lintas batas. JISOO membantu menulis playbook itu di Dior, memperluasnya ke activewear di Alo, dan kini membawanya ke brand yang memang membutuhkan jembatan budaya semacam itu. Pegunungan sudah menjadi bagian dari hidupnya sejak awal, dan akhirnya dia mengenakan sepatu yang tepat untuk itu — dan entah bagaimana, Salomon-nya menjadi sepatu paling keren di ruangan.




