By Andrea Sacal
Rok bukanlah yang membuat sebuah konsep K-pop menjadi genderless. Begitu juga eyeliner, kalung mutiara, atau sepasang heels yang sangat bagus. Kalau iya, K-pop pasti sudah membongkar batas gender bertahun-tahun lalu. Tapi, rising stars XLOV justru melawan arus norma gender tradisional, dengan Wumuti, Rui, Hyun, dan Haru yang konsisten tampil di panggung dengan gaya genderless yang effortless.
Sejak debut dengan “I’mma Be” pada Januari 2025, XLOV menjadikan “genderless” sebagai inti identitas mereka — tetapi definisi grup terhadap istilah itu justru yang membuatnya penting bagi mereka. Alih-alih mencoba menghapus gender dari citra mereka, mereka menyebut pendekatan itu sebagai “gender-free”: menolak gagasan bahwa bentuk ekspresi tertentu harus dimiliki secara eksklusif oleh satu gender. XLOV bukan berdandan untuk netralitas — justru sebaliknya — tetapi mereka mengambil beberapa kode fashion yang paling dikenali sebagai penanda gender, lalu mencampurkannya menjadi racikan khas mereka sendiri.
XLOV sudah menegaskan niat mereka sebelum siapa pun sempat bertanya apakah “genderless” hanya sekadar strategi marketing yang cerdas. Dalam music video dan promosi untuk single debut mereka, para member tampil dengan makeup bold dan outfit yang memadukan rok dengan celana, seketika mengacaukan visual shorthand yang akrab dari boy group K-pop. Alih-alih memberi satu member tampilan “androgynous” khusus sementara yang lain bermain aman, XLOV menjadikan ambiguitas gender sebagai standar dasar grup. Debut mereka bukan memperkenalkan gaya gender-fluid ke K-pop; mereka memperkenalkan sebuah grup yang siap membangun seluruh wardrobe mereka di sekelilingnya.
Bagi XLOV, bahu yang tegas bertemu dengan pinggang yang ramping; celana wide-leg berdampingan dengan crop top; tailoring yang terstruktur dilunakkan dengan kulit yang terekspos, lapisan kain yang mengalir, atau detail hiasan yang lembut. Mutiara muncul di tengah tampilan yang lebih gelap, sementara rambut panjang dan wig bisa selaras dengan siluet yang secara tradisional terlihat maskulin. Rok khas grup, kain transparan, dan lensa berwarna biasanya tetap dibumikan oleh bahu yang lebar, alas kaki yang lebih berat, tekstur yang sengaja dibuat lusuh, atau tailoring yang dibuat terasa tajam dan tegas.
Selama era “1&Only”, Wumuti dan Rui bereksperimen dengan elemen warna pink dan gaya rambut sebahu. Di promosi berikutnya, wig menjadi bagian yang lebih mapan dari perangkat visual XLOV. Wumuti menjelaskan bahwa proses styling bisa dimulai dari prompt yang sengaja fantastis seperti “medieval,” “Met Gala,” atau bahkan “refreshing but sexy fairy,” sebelum tiap member menambahkan sentuhan pribadi mereka sendiri. Peran Wumuti dalam membentuk arah kreatif grup secara alami membuatnya menjadi salah satu kendaraan paling jelas untuk ide-ide mereka yang lebih eksperimental, tetapi styling XLOV tetap memberi ruang bagi tiap member untuk menghidupkan konsep itu dengan cara yang berbeda.
Selama era “SERVE”, XLOV mulai lebih rutin memasukkan wig ke dalam pilihan styling mereka, memperluas fungsi rambut dari sekadar sentuhan akhir menjadi alat lain untuk mengolah presentasi gender. Wig panjang bisa dipadukan dengan suit, vest, dan tailoring yang lebih tajam; blouse bisa berjalan berdampingan dengan item yang lebih tradisional maskulin, dan makeup dramatis tak perlu lagi diberi pembenaran. Styling terbaru mereka menegaskan bahwa keempat member ini menolak terjebak dalam satu seragam yang mudah dikenali.
Citra pemberontak grup ini memberi izin bagi para fans untuk bereksperimen tanpa merasa tertekan agar cocok dengan kotak K-pop yang serba rapi dan polished. XLOV menghadirkan ekspresi diri sebagai sesuatu yang cair, bukan sesuatu yang ditentukan, dan bagi fans, estetika mereka jadi bukan soal berpakaian seperti grup itu, melainkan mengadopsi kebebasan yang sama: kenakan apa yang terasa tepat, langgar aturannya, dan lupakan dari bagian toko mana asalnya.
Konsistensi XLOV datang dari filosofi, bukan keseragaman. Jika genderlessness hanya berarti menaruh keempat member dalam rok, memberi semua orang rambut panjang, lalu menyebutnya revolusioner, XLOV justru akan dengan cepat menciptakan dress code restriktif yang baru. Sebaliknya, satu member bisa melangkah lebih jauh ke ranah glamour sementara yang lain tetap mempertahankan styling yang lebih tradisional maskulin, tetapi keduanya tetap terasa menyatu dengan mulus.
Meski grup ini telah membuka jalan baru dengan gaya mereka yang tanpa kompromi, XLOV bukanlah yang pertama memperkenalkan androgyny ke K-pop. G-Dragon sudah bertahun-tahun dengan senang hati mengabaikan section pakaian pria dan wanita, Taemin dari SHINee membangun era-era penuh sensualitas dan ambiguitas, dan Ren dari NU'EST dikenal karena menantang ekspektasi konvensional tentang bagaimana para idol pria seharusnya tampil, sementara Jimin dari BTS secara konsisten memasukkan rok dan item gender-fluid ke dalam wardrobe-nya.
Bagi banyak idol, androgyny hadir sebagai tampilan panggung yang sangat berkesan, tetapi XLOV menolak batasan gender sebagai konsep grup yang sepenuhnya utuh. Wumuti menegaskan bahwa ini bukan dimaksudkan sebagai upaya sekali pakai untuk menarik perhatian, sementara grup ini kerap menggambarkan tujuan mereka sebagai upaya menunjukkan gaya dan bentuk kecantikan yang benar-benar mereka sukai tanpa menyembunyikannya dari pandangan publik.
Dalam industri yang sangat piawai mengemas identitas menjadi sesuatu yang langsung terbaca — cute, sexy, schoolboy, girl-crush, futuristic, preppy, punk — XLOV menolak masuk ke dalam kotak sama sekali. Estetika genderless mereka tidak tercipta dengan menghapus sisi maskulin atau menumpuk sisi feminin. Estetika itu hidup di antara ketegangan keduanya, dan pada kemungkinan bahwa keduanya bahkan tidak perlu hadir sama sekali.

