Oleh Andrea Sacal
Kwon Ji-yong telah menghabiskan seluruh kariernya dengan melakukan hal-hal yang pertama kali. Mulai dari menjadi artis Korea pertama yang menjadi headliner dalam tur dunia solo berskala besar hingga membangun label fashion — PEACEMINUSONE, yang diluncurkan pada 2014 — yang dipandang serius oleh industri atas namanya sendiri, bukan sekadar sebagai ajang penjualan merchandise. Dan pada 2019, baru keluar dari wajib militer di Korea Selatan, ia menjadi rapper Asia pertama dalam sejarah Nike yang mendapatkan kolaborasi dengan Swoosh. Penyebutan terakhir itu mengubah cara melihat semuanya, bukan sebagai deal brand atau ambassadorship, melainkan kemitraan kreatif dengan PEACEMINUSONE yang dibangun sepenuhnya berdasarkan logika estetika G-Dragon sendiri. Yang terjadi selama tujuh tahun berikutnya adalah hubungan Nike paling signifikan dalam sejarah K-pop, yang telah membuka jalan genre ini ke dalam sneaker culture.
Kemitraan itu diumumkan lewat sebuah bocoran, dan itu terasa sangat tepat bagi seorang artis yang paham bahwa antisipasi adalah produk itu sendiri. Pada 2019 beredar gambar sebuah Air Force 1 hitam yang retak, yang memperlihatkan artwork unik melalui jejak pemakaian. Petunjuk itu disusul perilisan global pada November, yang langsung sold out dan memenangkan Best Footwear di HYPEAWARDS. Nike telah menyerahkan kepada G-Dragon salah satu siluet paling sakral miliknya dan membiarkannya melakukan sesuatu yang sepenuhnya di luar logika khas brand tersebut. Kepercayaan seperti itu, pada saat banyak brand Barat masih menganggap K-pop sebagai sesuatu yang sekadar unik, merupakan pernyataan bahwa idol bisa memegang kunci viralitas di industri mana pun. Dengan menjangkau pasar yang sebelumnya belum tersentuh, bintang-bintang K-pop berhasil membawa fandom ke dalam sneaker culture — sebuah sektor yang digerakkan oleh hype, konsumsi, dan kolaborasi incaran — yang dipimpin oleh G-Dragon dari BIGBANG.
Konsep itu berkembang menjadi sebuah seri dan Para-Noise 2.0 memperluas artwork-nya. Para-Noise 3.0, yang hadir pada Fall 2024, mendorongnya lebih jauh lagi: Swoosh yang tidak serasi dalam warna ungu, baby blue, kuning, dan teal di atas upper kulit hitam, dengan setiap sepatu sengaja dibuat berbeda dari pasangannya. Seri Para-Noise menempatkan G-Dragon sebagai partner K-pop Nike yang paling serius secara konsep. Kwondo 1, yang dirilis pada Desember 2021, mengukuhkan sang idol sebagai kolaborator langka Swoosh dan salah satu dari sedikit entertainer dalam sejarah brand yang mendapat siluet orisinal sepenuhnya. Model ini memadukan tiga referensi — taekwondo, Kwon Ji-yong, dan slogan Nike “Just Do It” — menjadi satu kata, dan sepatu itu mencerminkan konsep berlapis tersebut dalam desainnya. Warna debutnya menampilkan upper kulit putih dengan detail brogue formal, overlay wingtip yang diambil dari siluet sepatu golf, dan penutup tali yang bisa dilepas yang terinspirasi dari konstruksi sepatu bola. Kolaborasi ini menghasilkan sepatu formal, sneaker, dan sepatu atletik yang dipadukan sekaligus, dengan bunga daisy khas PEACEMINUSONE di bagian tumit. Sepatu ini sold out, restock, lalu kembali pada awal 2023 dalam colorway hitam-putih “Panda” yang mengukuhkan dampak G-Dragon lewat sebuah signature shoe yang sangat layak untuk kembali hadir.
Sang frontman BIGBANG membiarkan para penggemar membangun semacam pasukan di sekitar PEACEMINUSONE, menghentikan produksi setelah Para-Noise 3.0 dan kembali untuk merayakan 2026 FIFA World Cup pada musim panas ini. Koleksi World Cup PEACEMINUSONE x Nike x Korea Football Association “Tigers of Asia” menjadi proyek duo ini yang paling ambisius sejauh ini, membekali tim sepak bola Korea Selatan selama penampilan mereka di World Cup. G-Dragon mengambil alih arah kreatif untuk kit pertandingan Korea, apparel off-field, dan Nike Cryoshot edisi khusus, memadukan sport, identitas nasional, dan spektakel global yang berpuncak dalam perjalanan tujuh tahun.
Apa yang dibangun G-Dragon bersama Nike bukan hanya warisan sneaker, melainkan sebuah struktur izin bagi para idol lain untuk mengikuti jejaknya. Sebelum Para-Noise, gagasan bahwa seorang artis Korea memiliki otoritas kreatif yang sesungguhnya di dalam salah satu brand sportswear paling berkuasa di dunia masih bersifat teoritis. Kini, itu menjadi sejarah yang terdokumentasi untuk PEACEMINUSONE dan Nike. G-Dragon tidak hanya membuka pintu K-pop ke dalam sneaker culture, ia membangun pintunya, memasang rangkanya, lalu melangkah melewatinya dengan kekuatan yang juga mendefinisikan katalog musiknya. Ketika generasi sneaker K-pop lainnya datang, mereka bukan meminta masuk — mereka langsung diizinkan masuk ke ruang yang telah dirancang oleh PEACEMINUSONE. Para-Noise dan Kwondo 1 berada dalam garis keturunan footwear G-Dragon, membuka jalan bagi setiap artis Korea yang sejak itu menegosiasikan kesepakatan sneaker dengan brand yang kini benar-benar memahami seberapa besar pengaruh yang bisa dibawa K-pop.
Era Nike milik King of K-Pop masih terus berkembang, tetapi signifikansinya sudah jelas: ia bukan hanya berkontribusi pada kehadiran genre ini yang semakin besar di dunia footwear — ia membangun cetak biru bagi brand, artis, dan kolaborasi yang datang setelahnya. Dari JISOO di Salomon hingga Felix dari Stray Kids di adidas, kemitraan G-Dragon dengan Nike telah menyiapkan panggung bagi dominasi sneaker K-pop.






