“1&Only”: Comeback Groove-Berat XLOV Menghancurkan Aturan Gender K-pop dengan Gaya

“1&Only”: Comeback Groove-Berat XLOV Menghancurkan Aturan Gender K-pop dengan Gaya

By Hasan Beyaz

Di lanskap K-pop di mana istilah “mendorong batas” sering terasa lebih estetika daripada ideologi, pendatang baru XLOV benar-benar melakukan sesuatu yang berbeda — dan mereka melakukannya dengan midriff tops, kuku kotak panjang, dan koreografi yang melintasi antara high fashion dan panas membara. Terdiri dari WUMUTI, RUI, HYUN, dan HARU, single terbaru mereka “1&Only” mungkin santai dari segi tempo, tetapi implikasinya jauh dari sunyi.

Dirilis pada Bulan Pride pula, lagu ini hadir bukan hanya sebagai single musiman melainkan sebagai pernyataan niat. XLOV, yang debut awal tahun ini dengan “I’mma Be” dan konsep yang terang-terangan menantang norma gender, telah memposisikan diri sebagai salah satu (jika bukan satu-satunya) boy group yang membongkar buku pedoman “maskulinitas idol” tradisional dengan groove, glamour, dan keberanian.

Sejak awal, XLOV tidak sekadar bermain-main dengan ambiguitas gender tetapi malah membangun itu ke dalam identitas mereka. Dipromosikan sebagai grup yang aktif merangkul gender fluidity, visual, lirik, dan kehadiran panggung mereka secara konsisten menolak kekakuan maskulinitas idol tradisional. Alih-alih melunakkan maskulinitas atau menestetiskan feminitas, XLOV mengajukan sesuatu yang lebih radikal: ruang ketiga, di mana glam dan ekspresi diri berdampingan tanpa batas.

Sementara pria di K-pop sudah lama bermain dengan androginia — dari visual ber-eyeliner hingga serenade gaya soft-boy — sedikit grup yang mengadopsi gender fluidity sebagai etos artistik penuh tubuh seperti yang dilakukan XLOV. XLOV tidak hanya menggoda estetika itu, mereka menghidupinya. Dalam pengertian itu, XLOV menduduki ruang yang lebih langka yang menolak tunduk pada biner biasa dan sebaliknya melihat fluiditas yang konsisten sebagai kekuatan.

“1&Only” mengandalkan groove hipnotis dan berliku yang dibangun pada loop ritmis ringan yang tak pernah benar-benar terselesaikan. Mengambil sedikit dari denyut bergulir Afrobeats, lagu ini menghilangkan struktur genre yang biasanya menuju klimaks demi sesuatu yang lebih mulus, lebih melingkar. Trek ini terasa seperti beludru di bawah kulit pada malam musim panas yang lembap; halus, hangat, dan memabukkan tanpa usaha.

Instrumen nyaris tak berubah antara bait dan chorus, menciptakan sensasi gerak yang lebih mencerminkan ritme tubuh daripada formula pop — persis seperti cara XLOV sendiri menolak pengklasifikasian yang rapi.

Vokal menjadi bagian dari beat itu sendiri, mengelilingi groove dengan kehangatan dan kelincahan. Baris HARU “Move to the rhythm / Move your feet to the rhythm” lebih menggambarkan perilaku musik itu sendiri daripada memerintah tindakan. Hal ini mengaburkan batas antara bahasa dan gerak, ekspresi verbal dan fisik — metafora yang cocok untuk pendekatan holistik XLOV dalam membongkar konstruksi identitas kaku melalui setiap faset seni mereka.

Meski santai dari segi suara, lirik lagu ini membawa pernyataan yang halus namun kuat. Nyanyian chorus, “only, only / I’m tryna be your one and only,” berfungsi sebagai mantra — sederhana, intim, dan hipnotis — ditopang oleh snap sinkopasi dan melodi berlapis panas pada trek tersebut.

Post-chorus, “Give me energy / Bombs and away,” mungkin terlihat minimalis di atas kertas, tetapi mendarat seperti pelepasan, menggema baik fisikalitas koreografi maupun pembebasan emosional yang diisyaratkan lagu ini.

Lirik-lirik ini memadukan urgensi romantis dengan energi inklusif gender, menggunakan bahasa main-main dan perintah ritmis untuk menciptakan suasana yang sensual sekaligus membebaskan. Walau tak eksplisit politis, fluiditas dalam penggunaan kata ganti dan istilah membuat “1&Only” menjadi semacam anthem halus bagi pendengar queer.

“I’ma give it to you straight.” Ironi dari baris itu, datang dari grup yang dikodekan queer seperti XLOV, terasa hampir terlalu pas. Dinanyikan oleh WUMUTI dan kemudian HYUN, baris itu terbaca kurang sebagai kejujuran literal dan lebih sebagai subversi ekspektasi heteronormatif — membengkokkan aturan lewat bahasa sama halnya seperti lewat suara. Di dunia XLOV, bahkan bahasa pun ikut berdandan.

Sebagian besar dinyanyikan dalam bahasa Inggris, liriknya santai, genit, dan dibungkus dalam pergerakan. Baris RUI “float away, so high up in the clouds / We’re in the clouds now…” mencerminkan keringanan musik. Hal itu ditekankan pada verse kedua, di mana WUMUTI dan HARU mencampur Spanyol, Korea, dan Inggris — “Call me Papi Chulo, Mamacita / Mixing you up like I’m serving margaritas.” Ini lebih dari sekadar godaan kosmopolitan: lirik itu dengan santai meluncur di antara istilah bernuansa gender, mengacaukan ekspektasi dengan pesona. Di dunia yang dibangun XLOV, gender bukanlah sifat tetap tetapi sebuah rasa — sesuatu yang Anda campur, aduk, dan sajikan dengan percaya diri.

Alih-alih mendramatisasi kerinduan atau patah hati, XLOV menawarkan sesuatu yang lebih santai: rayuan musim panas yang tak perlu berteriak agar didengar. Seperti mereka nyanyikan di bridge: “We keep turning up this party / Like it’s a Friday night,” lagu ini melaju di puncak itu tanpa pernah turun.

Video musik membuat misinya jelas sejak awal. Sebuah poster sassy melintas: “Sick of the same old crap? It’s your choice! Leave them behind. Get your freedom back.” WUMUTI adalah yang berinteraksi dengannya, merobek bagian yang ditutupi bunga mawar dengan kuku berhias berlian sebagai gestur simbolis. Adegan itu menempatkannya — sebagai anggota tertua band — sebagai semacam pemimpin pemberontakan pop XLOV. Interaksinya meruntuhkan batas antara idol dan penonton: dia tak hanya berada di dunia yang digambarkan poster itu, dia membantu membangun dunia yang melampauinya. Tindakan membongkar secara fisik “same old crap” menjadi gestur radikal yang selaras sempurna dengan etos lagu tentang fluiditas, pembebasan, dan pembangkangan glam.

Di tempat lain, kamera memotong antara body roll berkecepatan tinggi dan properti permen nakal — termasuk permen lollipop dengan pria-permen kecil yang menempel. Momen RUI yang bersandar pada wajah mannequin laki-laki berbekas lipstik di ruangan bernada sepia terasa setengah fantasi pop, setengah tableau surealis. Ini memang camp, tapi juga sangat subversif. Pilihan visual ini menggoda kitsch dan queerness sekaligus, menggunakan pop surrealism sebagai alat pembebasan.

Pilihan-pilihan ini bergema pada garis keturunan ikon pop queer — dari teaterikal Grace Jones hingga glam runway RuPaul — menempatkan XLOV sebagai pewaris artis yang mengubah subversi menjadi tontonan. Glamour di sini bukan sekadar estetika, melainkan sebuah pernyataan.

Yang penting, styling band menyingkirkan tanda-tanda biner. Midriff tops, rambut disisir ke belakang, dan kuku panjang kotak-oval gothic tak lagi dikodekan sebagai maskulin atau feminin — mereka memamerkan ketidakterkaitan salah satunya. Grup ini tidak sekadar memakai estetika ini — mereka menguasainya. Styling ini adalah pernyataan diri yang disengaja, penolakan terlihat untuk tunduk pada norma yang dibungkus dalam kilap tajam.

Alih-alih melunakkan visual agar tampak “androgynous,” XLOV justru memperkuatnya — sensual, penuh tahu diri, dan tenang. Dengan begitu, mereka meredefinisi siapa yang berhak menguasai panggung dengan sikap semacam ini.

Dari sisi koreografi, XLOV secara signifikan menaikkan taruhannya dibanding debut mereka “I’mma Be.” Front cartwheel RUI menjadi flip sambil bernyanyi meledak dengan showmanship yang fluid, cocok sempurna dengan mantra post-chorus “give me energy.”

Di tempat lain, grup ini bergerak seperti arus hidup: riak body roll yang diteruskan antar anggota dalam roll-off yang membuat chorus terasa fisik dan mendesak. Gerakan mereka meminjam sebanyak mungkin dari penampilan berkode femme seperti halnya dari koreografi boy group standar; hip rolls, flick pergelangan, angle catwalk. Tidak ada ironi di situ. Ini adalah permainan gender yang percaya diri dan berwujud, dan dalam pengertian itu, energi pertunjukan mereka berada di antara panggung klub dan runway drag — terasah, presisi, dan penuh kepribadian.

“1&Only” mungkin merupakan rilis besar kedua XLOV, tetapi mereka sudah terasa seperti outlier dalam arti terbaik. Mereka sedang membangun dunia yang terasa lebih mengilap, lebih intim, dan jujur saja lebih queer — entah itu secara eksplisit maupun atmosferik.

Mudah berlebihan mengklaim kebaruan dalam pop — tapi dalam kasus XLOV, ini tidak terasa seperti hingar-bingar belaka. Fans sering mengklaim artis favorit mereka melakukan sesuatu “yang belum pernah dilakukan sebelumnya.” Dalam kasus XLOV, itu tidak terasa delusi atau sekadar trik pemasaran — melainkan sesuatu yang memang pantas.

Di tengah lautan akt yang berjalan hati-hati mengelilingi radikalisme, XLOV menceburkan diri sepenuhnya, bukan sebagai tren tetapi sebagai gerakan. Mereka tak hanya merombak lanskap gender K-pop; mereka melarutkannya sepenuhnya — dengan ritme, pemberontakan, dan gaya yang tak henti-hentinya.