Mengapa Seoul Menjadi Kota K-Entertainment 24/7 Itu Penting
Oleh Chyenne Tatum
Seiring K-pop terus menjadi kekuatan dominan dalam budaya pop, ibu kota Korea Selatan, Seoul, ikut menambah bahan bakar ke api itu. Setelah mengumumkan rencana untuk meluncurkan venue konser baru, Seoul Arena, guna mengakomodasi pertumbuhan K-pop yang pesat, Pemerintah Metropolitan Seoul kini memperluas rencana tersebut jauh melampaui sekadar tempat konser dengan menjadikan genre ini sebagai kebijakan ekonomi dan budaya utama.
Pada 21 April, Seoul mengumumkan rencana senilai $1,9 miliar untuk mengubah kawasan Chang-dong menjadi pusat budaya K-pop yang beroperasi 24/7. Rencana ini tampaknya menjawab kekurangan Seoul yang selama ini tidak benar-benar memiliki kehadiran hiburan K-pop yang nyata, meski kota ini sudah dianggap sebagai rumah dan jantung industri tersebut. Menurut Wali Kota Oh Se-hoon, “Chang-dong dan area Sanggye di sekitarnya tidak akan lagi menjadi pinggiran Seoul, melainkan akan menjadi pusat budaya dan seni kota serta inti ekonomi yang kuat yang akan memikul masa depan kota sebagai area kunci dalam membuka era 30 juta wisatawan asing.”
Ini adalah strategi yang disengaja untuk membantu meningkatkan angka ekonomi kawasan dengan memanfaatkan industri K-pop yang bernilai miliaran dolar, dan mereka sama sekali tidak menutup-nutupinya. Selain kapasitas Seoul Arena yang diperkirakan mencapai 28.000 kursi, kota ini juga berencana menerapkan apa yang disebut sistem “Connective Live”, di mana wisatawan bahkan warga lokal bisa menonton konser arena secara live streaming ke beberapa lokasi di seluruh kawasan. Ini akan membuat konser K-pop semakin mudah diakses bagi mereka yang tidak berhasil mendapatkan tiket untuk melihat artis favorit mereka, sekaligus mengubah kawasan itu menjadi pengalaman menonton konser secara utuh.
Saat ini, beberapa area utama di Seoul yang dikunjungi wisatawan berorientasi K-pop adalah tempat seperti Gangnam (tempat banyak agensi K-pop berkantor pusat), Myeongdong untuk belanja merchandise, dan Hongdae yang populer dengan area dance busking serta kafe bertema idol. Namun, belum pernah ada venue yang benar-benar layak — atau cukup besar — untuk grup Korea dan para idol tampil, apalagi satu kawasan tunggal yang secara khusus melayani K-pop dan bentuk seni terkait lainnya. Semua itu akan segera berubah.
Dengan pembukaan besar Seoul Arena yang saat ini dijadwalkan pada Mei 2027, pejabat kota sedang mempertimbangkan untuk memasangkan penampilan besar K-pop dengan artis global; saat ini belum jelas apakah itu akan menjadi konser kolaborasi penuh antara kedua pihak, atau hanya penampilan spesial. Apa pun bentuknya, ini sangat sejalan dengan rencana kota untuk menarik perhatian dan poin wisata, jika itu berarti bisa merasakan konser yang tak ada duanya. Ini juga mencerminkan pengumuman sebelumnya dari empat agensi terbesar K-pop yang akan meluncurkan festival musik K-pop mereka sendiri, yang saat ini dikenal sebagai Fanomenon, dengan rencana mengundang artis global bersama mereka. Keduanya mengejar tujuan serupa sambil dengan sengaja menempatkan K-pop di pusat segalanya.
Namun, yang akan diuntungkan bukan hanya K-pop. Menurut The Korea Times, rencana kota ini juga mencakup pameran sepanjang tahun dan program praktik langsung yang akan disediakan melalui Photography Seoul Museum of Art, Seoul Robot & AI Museum, bahkan ruang-ruang lain di bawah Stasiun Chang-dong. Proyek ini sekaligus akan terhubung dengan pusat-pusat budaya lain di utara Sungai Han, dengan acara dan pertunjukan bersama yang direncanakan bersama Dongdaemun Design Plaza dan Dongdaemun K-pop Street yang berada di dekatnya.
Kalau dipikir-pikir, pusat budaya ini hampir terdengar seperti taman hiburan dengan banyak atraksi imersif dan artistiknya. Tidak hanya arena itu sendiri akan menarik puluhan ribu penonton per pertunjukan, tetapi juga akan mendorong pengunjung untuk tinggal dan menghabiskan waktu di Chang-dong, alih-alih menjadikannya sekadar tempat singgah. Semakin banyak yang bisa dilihat dan dilakukan, semakin besar kemungkinan wisatawan memasukkan kawasan ini secara khusus ke dalam itinerary mereka, dan yang lebih penting, membelanjakan uang.
Selain itu, Chang-dong juga diperkirakan akan diakui sebagai Culture and Tourism Specific Development Promotion District, yang akan memberinya status hukum khusus untuk proyek ini. Menurut media lokal Korea, penetapan ini akan membuka berbagai instrumen kebijakan seperti pinjaman berbunga rendah, keringanan pajak, dan pelonggaran batas kepadatan bangunan untuk mendorong investasi swasta.
“K-entertainment town” ini adalah tanda lain bahwa momen budaya K-pop diperlakukan sebagai infrastruktur, bukan sekadar tren. Investasi $1,9 miliar di satu lingkungan tidak terjadi hanya karena demam sesaat — itu terjadi ketika pemerintah dan industri cukup yakin pada permainan jangka panjang untuk membangunnya. Seoul bukan cuma memanfaatkan Hallyu Wave. Kota ini sedang bertaruh pada dekade berikutnya.