by Ella Finnegan
Setelah absen dari tur selama delapan tahun, kembalinya G-Dragon ke panggung mengingatkan kerumunan Las Vegas yang bergemuruh mengapa ia masih berkuasa sebagai King of K-Pop.
Meskipun suhu pada 31 Agustus lebih dari 100F, para penggemar tetap datang berjam-jam sebelum malam sold-out tur Übermensch World Tour ini dimulai. Mereka ramai di luar T-Mobile Arena, saling bertukar freebies dan memuji outfit masing-masing yang dikurasi dengan cermat dan mencerminkan selera fesyen G-Dragon yang imajinatif. Energinya terasa lebih seperti festival ketimbang konser.
Namun, sebagian besar yang datang lebih awal ada di sana untuk merch, menunggu dalam antrean yang seolah tak ada ujungnya dan memanjang di sepanjang trotoar. Sebagai pencipta light stick orisinal, yang merevolusi partisipasi penggemar di konser, G-Dragon terus menaikkan tingkat orisinalitas merch-nya di setiap tur, dan light stick untuk Übermensch tidak mengecewakan—bunga daisy yang bisa berubah warna dan dapat dipasangkan dengan dudukan pengisi daya berbentuk pot bunga. Bahkan ada aksesori sendiri, serta versi mini light stick dalam bentuk gantungan kunci.
G-Dragon bergerak layaknya dirigen kekacauan—tajam, percaya diri, elektrik—sementara para penari dan band live-nya ikut terbawa energinya dan penonton berteriak sampai serak. Tapi bahkan dengan rentetan visual yang berani dan pertunjukan laser yang terus-menerus, sebenarnya hanya ada satu fenomena yang benar-benar tak bisa dilepaskan dari pandangan. G-Dragon datang untuk berpesta.
Kursi-kursi terisi cepat begitu pintu stadion dibuka, dan saya mendapati diri saya duduk di sebelah seorang penggemar lama G-Dragon yang datang sendiri dari Canada untuk merayakan kembalinya sang idola. Ia membeli tiket kedua, tetapi tak satu pun temannya bisa ikut dalam perjalanan itu, jadi saat melewati antrean keamanan, ia melakukan sesuatu yang begitu sosial-forward hingga saya hanya bisa membayangkan itu terjadi di konser K-Pop: ia bertanya kepada seorang manajer apakah salah satu stafnya bisa libur malam itu dan menggunakan kursi cadangannya. Manajer itu mengiyakan dan menawarkan kesempatan tersebut kepada seorang staf perempuan muda yang bahkan tidak tahu lagu-lagu G-Dragon... tapi tak lama kemudian, hal itu tak lagi penting.
G-Dragon akan mendapat seorang penggemar baru.
Lampu stadion diredupkan dan asap panggung mulai membubung. Penonton meraung. Laser menyambar dan gambar-gambar G-Dragon mulai muncul di layar panggung raksasa. Lalu dentuman ikonik dari hit besarnya yang masif, Power, meledak, dan di sanalah ia di tengah badai petir digital—sang King sendiri, mengenakan mahkota emas dan balutan jaket merah berkilauan. Letupan api menyembur ke udara di sekelilingnya.
Vokalnya yang khas terdengar jelas menembus campuran musik yang berat di bass, mengingatkan semua orang sejak awal bahwa di balik semua fesyen dan kemegahan, ada seorang artis yang benar-benar mumpuni. Tidak mungkin ada pembuka yang lebih eksplosif.
G-Dragon bergerak layaknya dirigen kekacauan—tajam, percaya diri, elektrik—sementara para penari dan band live-nya ikut terbawa energinya dan penonton berteriak sampai serak. Tapi bahkan dengan rentetan visual yang berani dan pertunjukan laser yang terus-menerus, sebenarnya hanya ada satu fenomena yang benar-benar tak bisa dilepaskan dari pandangan. G-Dragon datang untuk berpesta. Lagu banger berikutnya adalah Home Sweet Home, yang membuat lantai terus bergetar, dengan penonton meneriakkan setiap lirik kembali kepadanya. Lalu G-Dragon memperlambat suasana sejenak ketika ia meluangkan beberapa menit untuk menyambut kami ke pertunjukan—di “City that Never Sleeps”—sebelum drum kembali memacu tempo, dan MichiGO membuat stadion kembali berguncang, light stick dan tangan-tangan melambai liar mengikuti mahakarya hip hop ini.
Setlist-nya adalah rollercoaster yang disusun dengan cermat, hanya berhenti sejenak saat G-Dragon berinteraksi lebih personal dengan penonton. Nada suaranya yang lebih lembut sering kali terasa mengejutkan, datang dari sosok ikonik yang begitu larger-than-life ini.
Menjelang akhir, penonton kelelahan tapi dipenuhi euforia. Ini bukan sekadar pertunjukan comeback—melainkan masterclass tentang bagaimana menggenggam sebuah kota seperti Las Vegas di telapak tanganmu, seperti yang dulu dilakukan Elvis.
Salah satu build-up lagu terbaik adalah saat ia dengan jenaka memperkenalkan Crayon, ketika ia slyly mengatakan “get-cha” dan mendorong para penonton untuk meneriakkan “crayon” sebelum banyak yang sadar bahwa ia sedang mengalir masuk ke lagu aslinya.
Salah satu hal unik dari pertunjukan ini adalah sisipan fragmen visual multimedia di antara tiap segmen, yang membangun kembali ketegangan dan menciptakan suasana untuk kemunculan besar berikutnya. Heartbreaker juga menjadi favorit penonton yang jelas. Pada titik ini, G-Dragon telah berubah menjadi karakter baru sepenuhnya, mengenakan setelan merah yang pas badan dan topi flat-brimmed. Light stick berbentuk daisy menyala dengan warna-warna paling terang dan paling mencolok.
Too Bad dan salah satu lagu G-Dragon yang lebih liris, Drama, menjadi penutup setlist resmi, tapi penonton Las Vegas ini belum siap berpisah. Mereka disuguhi encore yang seru dan penuh kejutan, termasuk cover Can’t Help Falling in Love milik Elvis Presley, yang dimulai sebagai balada menyentuh dan berakhir seperti sesuatu yang mungkin terdengar dari band grunge.
Sebuah komposisi seperti ini hanya bisa datang dari G-Dragon.
Menjelang akhir, penonton kelelahan tapi dipenuhi euforia. Ini bukan sekadar pertunjukan comeback—melainkan masterclass tentang bagaimana menggenggam sebuah kota seperti Las Vegas di telapak tanganmu, seperti yang dulu dilakukan Elvis.
Hidup sang King.