‘Mark on Me’: &TEAM Mengaung Menuju Era Baru dengan Album Korea Kedua
by Catherine Shin

Terbentuk pada 2022 melalui ajang kompetisi reality show &AUDITION – The Howling, &TEAM – EJ, FUMA, K, NICHOLAS, YUMA, JO, HARUA, TAKI, dan MAKI – perlahan membangun identitas mereka di sekitar citra anak serigala: sosok outsider yang mencari penerimaan dan tempat untuk merasa menjadi bagian. Grup berbasis Jepang yang dikelola oleh HYBE LABELS JAPAN ini konsisten membawa konsep tersebut dalam musik dan visual mereka sejak debut. Mini album Korea kedua mereka, Mark on Me, mengembangkan mitologi itu lebih jauh.
Lewat enam lagu yang merentang berbagai genre, Mark on Me memperlihatkan perjalanan grup dari kerentanan yang terjaga menuju koneksi. FUMA, sub-leader &TEAM, menjelaskan konsep utama lagu judul sebagai imprinting, merujuk pada gagasan meninggalkan jejak yang abadi di hati orang lain. Leader grup, EJ, kemudian menjelaskan konsep itu lebih jauh melalui pengalaman bertemu seseorang yang menerima diri kita apa adanya dan menemukan kemampuan untuk mencinta lewat penerimaan tersebut. Bersama-sama, komentar mereka menunjukkan pergeseran dalam mitologi serigala &TEAM melalui album terbaru ini: alih-alih terus menjadi outsider, sang serigala menemukan koneksi lewat orang lain.
Lagu utama, “Mark on Me,” mencerminkan progres itu dalam aransemennya. Lagu dibuka dengan piano yang tertahan sebelum berkembang menjadi reff yang lebih penuh, dengan vokal yang perlahan membangun menuju puncak emosional lagu. Pergeseran dari pembukaan yang lembut ke reff yang lebih luas menegaskan pergerakan dari sikap waspada menuju keterbukaan emosional. Kredit lagu utama juga menghubungkan &TEAM dengan jaringan kolaborator pop yang lebih luas. Penyanyi-penulis lagu asal AS, Benson Boone, tercatat sebagai penulis lagu, sementara produser Griff Clawson sebelumnya pernah bekerja dengan Rosé dari BLACKPINK dan NCT. Bersama-sama, kredit ini memberi gambaran para kolaborator di balik lagu tersebut.
MV-nya memperluas atmosfer tertahan ini lewat pilihan visualnya. Salah satu set menampilkan jendela tinggi berbentuk lengkung yang mengingatkan pada katedral, sementara set lainnya berfokus pada penari balet yang gerakannya dipantulkan dan diulang. Warna merah tua dan hitam mendominasi palet warna, sementara pergerakan kamera yang lambat dan terkontrol memberi koreografi nuansa hampir seremonial. Beberapa detik terakhir video musik ini memperkenalkan DARK MOON: The Wolf Hunter, proyek mendatang yang terhubung dengan mitologi serigala &TEAM dan dijadwalkan rilis pada 2027. Kartu judul di akhir menegaskan koneksi itu, mengaitkan eksplorasi penerimaan dan rasa memiliki di album ini dengan bab berikutnya dari semesta fiksi mereka yang lebih luas.
B-side “Good Boy” menggeser album ke arah hip-hop, menukar kerentanan emosional lagu utama dengan reff bernuansa chant dan delivery rap yang percaya diri. Lagu ini berfungsi sebagai kontras bagi “Mark on Me,” memberi sang serigala kehadiran yang lebih tegas. Kreditnya juga menghubungkan &TEAM dengan artis lain di bawah HYBE. Tim penulis lagu mencakup Johnny Goldstein, yang pernah bekerja dengan j-hope dari BTS, bersama “hitman” bang dan Supreme Boi, yang sama-sama terkait dengan katalog BTS. Anggota grup HYBE lain, CORTIS, juga tercantum sebagai penulis, memberi sekilas gambaran tentang jaringan kolaborator yang bekerja lintas artis HYBE.
“Love Jang” mengambil pendekatan berbeda, menjauh dari mitologi serigala album ini untuk mengeksplorasi referensi budaya Korea yang khas. Judulnya, 러브장 (reobeu-jang), merujuk pada buku catatan berhias yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan romantis. Sebuah laporan tahun 2002 oleh surat kabar Korea Selatan The Kyunghyang Shinmun menggambarkan praktik menuliskan pengakuan cinta di buku catatan atau diary, yang sering dihiasi potongan teks, gambar warna-warni, dan detail dekoratif lainnya. Tren ini sangat populer di kalangan siswi usia sekolah, dan laporan tersebut juga mencatat bahwa praktik ini mulai menyebar di kalangan siswa laki-laki. Lagu ini menangkap nostalgia itu lewat synth hangat bernuansa retro dan ritme yang santai serta mudah untuk berdansa, dengan bagian talk-rap yang playful dari EJ dan NICHOLAS menambah karakter ringan lagu ini. Jika lagu utama bergerak menuju keterbukaan emosional, “Love Jang” mendekati afeksi lewat bahasa romansa remaja yang lebih playful.
Kredit produksi “Love Jang” menambah dimensi lain pada lagu ini. PARKMOONCHI dan Soma Genda menggarap lagu tersebut, dengan Genda juga tercatat dalam rilisan seperti single Jepang TXT “Setsuna Hanabi” dan “Crystal Snow” milik BTS. Keterlibatannya menghubungkan lagu yang berakar pada nostalgia budaya Korea dengan produser yang berpengalaman di rilisan pasar Jepang – sebuah koneksi lintas pasar yang menarik.
“Accelerate” kembali ke narasi serigala melalui nuansa pop R&B yang lebih hangat, dibangun di atas groove yang stabil. Liriknya mengekspresikan rasa terima kasih kepada sosok yang telah memberi sang serigala alasan untuk terus melangkah, mengembangkan pergerakan album dari keterasingan menuju koneksi. Penulis lagu Will Jay kembali ke katalog grup setelah menggarap lagu mereka, “Extraordinary Day,” memberikan kaitan yang lebih langsung dengan sejarah musik &TEAM sendiri.
Rasa keterhubungan itu berlanjut di “Empty,” sebuah power ballad alternative rock yang dimulai dengan satu gitar sebelum berkembang ke instrumentasi band yang lebih penuh. Pembukaan yang tertahan mengingatkan pada lagu utama, tetapi penekanan emosinya bergeser ke kenyamanan yang diberikan oleh orang lain. Dalam narasi album yang lebih luas, lagu ini menunjukkan sosok serigala yang tak lagi hanya didefinisikan oleh kesepian, melainkan mampu menemukan ketenangan dari orang lain.
Album ditutup dengan “Night to howl!,” lagu pop-punk yang mengambil inspirasi dari instrumentasi cepat dan chorus meledak-ledak yang identik dengan kejayaan genre ini di era 2000-an. Energinya menjadi kontras yang pas dengan pengekangan pada bagian awal album: jika “Mark on Me” membangun menuju keterbukaan emosional, “Night to howl!” mengubah pelepasan itu menjadi sesuatu yang kolektif. Sang serigala tak lagi melolong sendirian, melainkan bersama kawanannya.
Di sepanjang Mark on Me, &TEAM mengembangkan mitologi serigala mereka dari kisah keterasingan menjadi kisah penerimaan dan rasa memiliki. Rujukan penutup dalam video musik ke DARK MOON: The Wolf Hunter mengarah ke bab berikutnya dari dunia fiksi tersebut, sementara beragam warna musik di album ini memberi ruang bagi narasi untuk bergerak antara kerentanan, kepercayaan diri, nostalgia, dan pelepasan kolektif.
Menurut Soompi, Mark on Me terjual sebanyak 1.224.524 kopi pada hari pertamanya, mencetak rekor pribadi baru bagi &TEAM dan menandai rilisan ketiga berturut-turut grup ini yang melampaui satu juta penjualan di hari pertama. Dengan mitologi serigala mereka yang terus berkembang dan momentum komersial yang tetap kuat, Mark on Me memberi &TEAM fondasi yang jelas untuk bab berikutnya.