LOONA di Usia 7 Tahun: Sebuah Perayaan, Sebuah Pelayatan, Sebuah Warisan
by Hasan Beyaz

Pada 20 Agustus 2018, LOONA akhirnya berdiri sebagai dua belas anggota. Setelah delapan belas bulan penuh misteri, perilisan solo, sub-unit, dan teori penggemar yang berkembang seperti galaksi mereka sendiri, mereka memperkenalkan diri lewat mini-album [+ +] — bukan sekadar debut, melainkan puncak dari salah satu peluncuran paling ambisius dalam sejarah K-pop. Bagi mereka yang menyaksikannya, momen itu tak terlupakan: girl group yang terasa lebih seperti fenomena budaya, lengkap dengan mitologi, estetika, dan daya tarik gravitasinya sendiri.
Tujuh tahun kemudian, LOONA tak lagi ada sebagai grup aktif. Perusahaan mereka runtuh akibat salah urus, para member tersebar ke jalan masing-masing, dan apa yang dulu menjadi proyek girl group paling inovatif di eranya berakhir dalam keheningan. Namun, ketika Jinsoul mengunggah foto OT12 kemarin, itu menjadi pengingat mentah bahwa LOONA masih ada — bukan sebagai grup idol yang berfungsi, melainkan sebagai kenangan bersama, janji yang tak terpenuhi, dan bukti hidup atas apa yang bisa diciptakan bersama oleh seni dan fandom.
Bagi fans di seluruh dunia, LOONA tetap lebih dari sekadar grup – mereka adalah sebuah fenomena, sebuah kenangan, dan pengingat akan kekuatan sekaligus kerapuhan seni dalam industri ini. Untuk merayakan hari jadi salah satu girl group paling ambisius dan dicintai dalam K-pop, mari kita menengok kembali siapa mereka, apa yang terjadi, dan mengapa mereka masih penting.

Siapa Mereka
Sejak BlockBerry Creative mulai memperkenalkan LOONA pada 2016, jelas bahwa ini bukan girl group biasa. Setiap member diperkenalkan lewat single solo, video musik, dan sering kali sub-unit sebelum debut penuh dua belas anggota pada 2018. LOONA tidak pernah sekadar “dua belas gadis dalam satu grup.” Mereka adalah sebuah konstelasi.
Setiap konsep adalah potongan teka-teki dalam semesta luas LOONAVERSE. Mereka tidak hanya dipasarkan sebagai idol, tetapi juga sebagai figur mitologis — gadis-gadis yang terhubung dengan bulan, buah-buahan, cermin, android, bahkan Eden itu sendiri. Itu absurd, sangat ambisius, dan yang terpenting, berhasil.
Pada saat itu, semuanya terasa luar biasa mewah — dua belas debut mini, masing-masing dibuat dengan cermat memiliki identitas sonik dan visualnya sendiri. Namun jika dilihat kembali, itu juga merupakan salah satu strategi bisnis paling berani dalam sejarah K-pop. Yang tanpa sengaja dirintis BlockBerry adalah model yang memperlakukan grup bukan sebagai act yang tetap, melainkan sebagai ekosistem naratif yang terus berkembang. Setiap solo menjadi “proof of concept” — cara untuk lebih dulu menanam investasi dalam world-building ketimbang penjualan jangka pendek.
LOONA menjadi salah satu grup K-pop pertama yang benar-benar dibangun untuk internet — act yang mengutamakan fandom sebelum tangga lagu, mitologi sebelum metrik. Itulah sebabnya “stan LOONA” melampaui grup itu sendiri. Itu bukan sekadar meme, melainkan singkatan dari identitas fandom tertentu: ironis namun tulus, sangat online tetapi ikut serta secara global. Selama bertahun-tahun, LOONA lebih dari sekadar girl group dan lebih seperti eksperimen hidup tentang bagaimana K-pop bisa beroperasi dalam budaya penggemar yang terhubung dan lintas negara.
Saat “favOriTe” dirilis, dunia sudah memperhatikan. Para trendsetter Barat seperti Grimes, Charli XCX, dan Kim Petras mengaku sebagai fans mereka. Live Nation dilaporkan menandatangani mereka untuk kesepakatan tur — sesuatu yang hampir tak pernah terdengar saat itu, apalagi untuk grup pendatang baru. Lore mereka dibandingkan dengan Marvel Cinematic Universe, dan perilisan pra-debut mereka disebut sebagai strategi K-pop paling inovatif pada masanya.
Dan secara musik, mereka membuktikannya. Dari “Eclipse” milik Kim Lip yang sleek hingga “Hi High” yang euforik, dari transcendence “Butterfly” hingga kegelapan futuristik “So What,” diskografi LOONA sama serbagunanya dengan visi mereka. Bagi banyak orang, LOONA bukan sekadar hadir — mereka benar-benar mendefinisikan ulang arti sebuah girl group.

Apa yang Terjadi
Versi singkat: BlockBerry Creative.
Versi panjang: salah satu kasus salah urus perusahaan paling katastrofik dalam sejarah K-pop.
Bertahun-tahun dugaan kepemimpinan yang buruk, kontrak eksploitatif, dan keserakahan korporat berujung pada gugatan, aktivitas yang dibatalkan, dan pada akhirnya kehancuran. Namun, melihat kejatuhan LOONA sebagai tragedi tunggal justru melewatkan inti yang lebih besar: keruntuhan mereka bersifat sistemik.
Pada 2018, LOONA adalah konstelasi cerita, simbol, dan kemungkinan yang dijahit bersama lewat proyek solo dan sub-unit, jauh sebelum debut resmi mereka. Mereka bukan hanya sedang bersiap masuk ke K-pop, mereka sedang bersiap mendefinisikannya kembali. Bahkan saat itu, rasanya seperti kita sedang menyaksikan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya: act yang global sejak awal, mitis dalam penyajiannya, dan sudah hidup di imajinasi fans di seluruh dunia.
Itulah sebagian alasan mengapa kisah mereka yang terurai begitu menyakitkan. LOONA tak pernah dibubarkan secara resmi, tetapi kelalaian BlockBerry membuat tiap member harus berjuang keluar lewat jalur hukum. Fans pun dipaksa ikut bergerak. Saat The Origin Album — yang awalnya dijadwalkan rilis pada 3 Januari 2023 — ditunda tanpa batas di tengah kontroversi seputar keluarnya Chuu dan perselisihan hukum yang terus berlangsung, Orbits mengorganisasi boikot global terhadap album tersebut dan semua aktivitas terkait LOONA. Pre-order dibatalkan secara massal, tagar menyebar di media sosial, bahkan muncul panduan yang menjelaskan mengapa mendukung perusahaan berarti merugikan para artisnya sendiri. Dalam beberapa kasus, situs streaming hanya menampilkan sampul album, menjadi bukti hampa yang menghantui atas penolakan fans untuk membiarkan BlockBerry meraup untung dari grup kesayangan mereka.
Menjelang pertengahan 2023, ketigabelas (?) eh, kedua belas member sudah tersebar — bukan sebagai satu konstelasi yang bersinar, melainkan sebagai fragmen-fragmen yang menempuh orbit baru:
-
ARTMS (Heejin, Haseul, Kim Lip, Jinsoul, Choerry) di bawah Modhaus.
-
Loossemble (Hyunjin, Yeojin, Vivi, Gowon, Hyeju) di bawah CTDENM — yang, dalam salah satu ironi paling kejam, merilis light stick pada Juli 2024, hanya beberapa bulan sebelum grup tersebut dihentikan pada November itu.
-
Chuu dan Yves sebagai solois, membangun jalur masing-masing.
Alih-alih penutup yang rapi, LOONA terpecah ke dalam lini masa paralel. Setiap bab baru masih membawa sedikit mitos aslinya, tetapi mimpi tentang “12 sebagai satu” — siklus bulan yang menyelesaikan orbitnya bersama — dibiarkan menggantung.
Pelajaran di sini bukan hanya bahwa satu perusahaan menghancurkan grup yang menjanjikan. Ini juga bahwa sistem K-pop — yang dirancang untuk mengutamakan kepemilikan di atas seni — berhasil menghancurkan act yang justru membuktikan betapa global, mandiri, dan visioner model itu bisa menjadi. Grup yang dulu terasa seperti cetak biru masa depan kini berubah menjadi kisah peringatan.

Mengapa Kami Masih Merayakan
LOONA mewakili sisi terbaik sekaligus terburuk dari sejarah modern K-pop. Mereka adalah bukti tentang apa yang bisa diciptakan oleh visi, seni, dan budaya penggemar — tetapi juga pengingat tajam betapa rapuh semuanya di bawah sistem yang eksploitatif. Kehilangan mereka adalah salah satu blunder paling bersejarah dalam K-pop.
Namun, peringatan seperti ini mengingatkan kita: LOONA itu nyata. Lore, musik, teori, konser, kekacauan, cara mereka membuat orang merasakan sesuatu. Saat fans menjadi emosional melihat foto OT12, itu bukan nostalgia terhadap sesuatu yang sekadar unik — itu adalah cinta pada grup yang mengubah arti menjadi seorang fans, grup yang mengukir tempat di sejarah pop yang tak bisa dihapus oleh pembubaran apa pun.
Bagi banyak orang, solo pra-debut, keajaiban “Butterfly,” atau momen mereka menjadi 12 dalam “favOriTe” bukan sekadar lagu — itu adalah bab-bab dalam hidup mereka sendiri. LOONA mungkin tidak berdiri bersama di atas panggung hari ini, tetapi mereka tetap abadi dalam ingatan.
LOONA hidup dalam ruang budaya yang langka: sekaligus belum selesai dan abadi. Diskografi mereka terasa seperti cerita yang terputus di tengah kalimat, dan justru itulah yang secara paradoks memperkuat warisan mereka — yang kita ratapi bukanlah akhir, melainkan gangguan di tengah jalan. Mereka tetap menggantung pada cliffhanger, selamanya berputar di imajinasi fans.

Masa Depan, Suatu Saat Nanti
Ini terasa manis sekaligus pahit — merayakan apa yang pernah ada sambil berduka atas apa yang tak pernah terwujud. Namun mungkin itulah yang membuat LOONA unik: mereka akan selalu terasa belum selesai, tak terbatas, seperti Möbius strip lore mereka yang berputar tanpa akhir.
Pada 2018, LOONA merepresentasikan ketakterbatasan: dua belas bulan yang mengorbit di sekitar alam semesta yang terus meluas. Pada 2025, ramalan itu masih tetap benar, meski bukan dengan cara yang kita bayangkan. Mereka tetap tak terbatas bukan melalui kelanjutan, melainkan melalui penolakan untuk berakhir.
LOONA sejak awal menampilkan diri sebagai sesuatu yang abadi — bulan-bulan yang terus mengorbit, sebuah siklus yang tak terputus. Masih ada harapan, meski tipis dan keras kepala, bahwa suatu hari OT12 bisa reuni, meski hanya sebentar. Sampai saat itu tiba, Orbits akan terus merayakan setiap 20 Agustus — bukan hanya karena apa itu LOONA, tetapi karena apa arti LOONA.
LOONA bukan sekadar grup. LOONA adalah sebuah semesta. Dan beberapa semesta, begitu tercipta, tak pernah benar-benar berakhir.