Oleh Martina Rexrode
Pada 12 Januari 2026, SEVENTEEN memperkenalkan sub-unit terbaru mereka, DxS, yang dipimpin oleh vokalis DK dan SEUNGKWAN. Saat grup mulai menjalani kewajiban wajib militer, rilisan sub-unit dan solo mengambil makna baru – bukan sebagai pengisi waktu, melainkan sebagai cara untuk mempertahankan koneksi dan momentum di masa transisi.
DxS menandai sub-unit SEVENTEEN pertama yang dibangun di sekitar dua lead vocalist, keduanya dianggap sebagai salah satu yang terkuat di generasi mereka. Fokus itu membuat mini-album debut mereka, Serenade, terasa penuh tujuan sejak awal. Dalam enam lagu dan kira-kira 20 menit, DK dan SEUNGKWAN mengusung tema cinta, duka, refleksi, dan penyembuhan, membiarkan puncak dan lembah emosional berkembang dengan keakraban yang terasa lebih bisa dipahami daripada dibuat-buat.
Mini-album dimulai dengan lagu solo DK, “Rockstar.” Lanskap suara rock yang cerah berpadu mulus dengan kepribadian vokalis yang bersinar, membuat kredit penulisan tunggalnya pada Serenade terasa semakin menonjol. “Rockstar” yang dimaksud merujuk pada pendengar – DK membalik naskah biasa dan menyatakan dirinya sebagai penggemar nomor satunya dalam segala hal yang mereka lakukan. Dengan pola pikir ini, “Bahkan hari-hari biasa menjadi indah / Rutinitas kecil menjadi lebih istimewa.” Ini adalah lagu cinta ringan yang membuka mini-album dengan nada ceria yang wajar dari sang 'happy virus' SEVENTEEN.
Solo SEUNGKWAN, di sisi lain, adalah balada megah yang cocok untuk soundtrack film yang menghancurkan sekaligus indah. Dalam liriknya, ia menggambarkan gambaran menyentuh tentang seseorang yang menengok kembali persahabatan atau hubungan yang hilang dengan penuh kehangatan setelah memproses kesedihannya. Ia menghadirkan bayangan momen-momen terang di tengah gelapnya kehilangan yang seringkali menekan. Bagi SEUNGKWAN, yang ikut menulis “Dream Serenade,” kata-katanya terasa datang dari pengalaman. Saat ia menyanyikan “Bahkan jika aku mengumpulkan semua cahaya di dunia / Itu tetap tak bisa menggantikanmu / Tapi membayangkan kamu di suatu tempat / Tersenyum / Aku baik-baik saja,” pendengar tak bisa tidak merasakan setiap kata seperti balsem bagi luka terdalam mereka dan SEUNGKWAN.
Lagu utama Serenade, “Blue,” mengikuti banyak sentimen serupa. Dengan kejujuran intens dari kedua anggota yang tak menghindar dari beberapa emosi paling rentan manusia, mereka mengekspresikan aspek umum jatuh cinta pada seseorang yang menderita depresi. Terkadang beban mental dapat sedikit terangkat oleh pasangan, tetapi menghabiskan terlalu banyak waktu dengan orang yang membawa begitu banyak beban yang belum diproses seringkali bisa membuat kedua pihak ikut tenggelam dalam kesedihan yang sama.
Mencari kebahagiaan dan penyembuhan dari orang lain tidak selalu buruk, tetapi itu datang dengan risiko dan konsekuensi tergantung pada sifat hubungan tersebut. Ketika chorus merintih “I just keep on fallin' in your blue,” mereka merujuk pada risiko malang terperosok ke dalam kenyamanan pasangan sampai perpisahan akhirnya menjadi hal yang tak terelakkan. Pada akhirnya, pasangan yang menderita sendirian kembali berada di posisi itu: “I locked on your eyes alone / And worked harder on our love, but / You didn't come back to me / All that's left are echoes.”
Video musik sinematik untuk “Blue,” yang dibintangi aktor Lee Yoo-mi dan Noh Sang-hyun, adalah penggambaran yang sangat memilukan dari setiap lirik. Ia langsung membangun suasana dengan menampilkan tokoh pria selamat dari kecelakaan mobil di mana temannya meninggal. Saat penonton menyaksikan kehidupan domestiknya dengan tokoh wanita berkembang, mereka juga melihat kilasan PTSD dan depresi yang mengikat sampai pasangannya mulai berprasangka buruk atas kejadian biasa seperti tidak menjawab satu atau dua panggilan telepon.
Kerentanan para aktor dan artis dalam satu lagu ini adalah kejadian langka bagi K-pop. Kesehatan mental pada umumnya dipandang tabu dalam budaya Korea, meninggalkan banyak orang tanpa pilihan selain menderita dalam diam. Dengan menggambarkan hal-hal seperti duka, PTSD, depresi, dan kecemasan melalui musik, DK dan SEUNGKWAN tidak hanya menarik simpati penggemar—mereka menunjukkan bahwa tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja.
B-side lain seperti “Guilty Pleasure” dan “Silence” menyentuh aspek berbeda dari hubungan. Yang pertama adalah trek R&B yang groovy sementara yang terakhir merupakan balada megah lainnya. Masing-masing membawa pendengar ke dalam kegembiraan romansa baru yang tak terduga dan keheningan yang datang ketika menyadari bahwa hubungan yang dijalani perlahan mendekati akhir alaminya, keduanya melukiskan gambaran rinci bagi pendengar.
Saat “Prelude of love” bergulir menutup mini-album, pendengar mungkin bertanya-tanya apakah akhir yang bahagia mungkin terjadi. Kredit penulisan kedua SEUNGKWAN pada Serenade berasal dari lagu ini, sebuah lagu yang memberi dorongan dan menjanjikan waktu yang lebih bahagia di depan.
Momen-momen kecil kebahagiaan bisa membuat atau menghancurkan hari seseorang, jadi penting, seiring bertambahnya usia, untuk menangkap setiap keping kebahagiaan yang ada, besar atau kecil. Ini menjadi tema kolektif mini-album pada akhirnya. Kita semua menghadapi patah hati, kehilangan, atau kesepian pada titik tertentu dalam hidup, tetapi yang diingatkan DK dan SEUNGKWAN adalah bahwa cinta selalu ada di tikungan jalan.