Bab Baru, Api yang Sama: i-dle kembali dengan We Are
by Anwaya Mane

Kredit foto: CUBE.
Memasuki tahun ketujuh, i-dle bukan lagi sekadar menantang ekspektasi, tapi juga mendefinisikannya ulang.
Mei 2025 menandai titik balik yang simbolis bagi girl group yang memproduksi karya mereka sendiri ini. Tepat saat mereka merayakan ulang tahun ketujuh — pencapaian yang kerap dianggap sebagai titik rawan dalam K-pop — i-dle membuka babak baru dengan rebranding total, secara resmi menghapus huruf “G” dari nama mereka. Langkah ini mengirimkan pesan yang jelas: nama baru, era baru, api yang sama.
Sejak debut pada 2018, perjalanan i-dle dibentuk oleh keberhasilan sekaligus gejolak, mulai dari lagu-lagu hits yang melejit hingga kepergian Soojin yang ramai diperbincangkan pada 2021. Namun alih-alih terpecah, lima member yang tersisa justru makin menguatkan identitas mereka, hingga akhirnya memilih tetap bersama agensi lama mereka, CUBE Entertainment, dan melanjutkan perjalanan sebagai lima orang. Rebranding yang diungkap bersama logo bintang lima sudut yang elegan itu pun memicu banyak perbincangan di kalangan fans. Ruang kosong di bagian tengah — kekosongan yang sengaja dibiarkan — oleh banyak orang ditafsirkan sebagai penghormatan diam-diam untuk Soojin, simbol visual dari kehilangan, penyembuhan, dan kesinambungan.
Mini album terbaru mereka, We Are, yang dirilis pada 19 Mei, tidak menghindar dari simbolisme tersebut. Judulnya terasa sederhana, namun penuh makna: dua kata yang membentuk satu kalimat utuh, tetapi tetap menyisakan banyak ruang terbuka. Siapa yang dimaksud dengan “we” sekarang? Apa arti menjadi “kita” setelah begitu banyak perubahan? i-dle tidak menjawabnya secara langsung. Sebaliknya, mereka mewujudkannya.
Album ini dibuka dengan title track "Good Thing", yang ditulis dan diproduksi oleh leader Soyeon. Sesuai dengan gaya khas i-dle, lagu ini penuh dengan energi girl-power. “Good Thing” memadukan nuansa retro dengan efek suara 8-bit secara mulus, digerakkan oleh pre-chorus yang tak terlupakan dan hook yang sangat adiktif. Music video-nya mengubah energi itu menjadi kekacauan penuh warna, absurd, dan menyenangkan dengan keanehan yang pas. Berpijak pada mantra “Stop Hate, Spread Love,” lagu ini terasa seperti pernyataan misi: grup yang lebih matang, lebih berani, dan sama sekali tidak terganggu oleh omongan orang.
“Girlfriend,” lagu kedua, melanjutkan langsung dari “Good Thing”. Sebagai rilisan pertama mereka sejak rebranding, lagu ini cerdas membuka dengan sentuhan pada nama grup baru mereka, memakai permainan kata yang jenaka pada kata Korea ai-deul, yang bisa berarti ‘idol’ sekaligus ‘anak’. Secara lirik, ini murni i-dle: lagu perpisahan yang dipenuhi amarah feminis dan penolakan untuk menerima keadaan seadanya. Soyeon melontarkan salah satu baris paling tajam di album ini — “His night is just 5 seconds” — dengan ketegasan yang mengingatkan kita mengapa dia adalah salah satu talenta paling tak tergantikan di genre ini. Produksinya memang belum bisa menyamai puncak lagu hit mereka sebelumnya, “SuperLady”, tetapi tajamnya lagu ini tetap terasa.
Lalu hadir “Love Tease,” lagu menonjol yang ditulis oleh Yuqi dan membalik sudut pandang. Di atas synth yang berkilau dan groove pop lawas, liriknya mendorong kesabaran, keterhubungan, dan tanggung jawab emosional dalam keintiman. Lagu ini genit dan sensual, tetapi tetap dibubuhi pemikiran yang matang — contoh lain bagaimana i-dle memberi ruang bagi nuansa dalam pembahasan tentang cinta, seks, dan kekuasaan.
Lagu keempat, "Chain," memancarkan nuansa lambat, menggoda, dan membara. Secara lirik, lagu ini mengeksplorasi perasaan terikat, baik oleh pasangan, oleh cinta itu sendiri, maupun oleh pikiran, rasa tidak aman, dan pergulatan batin seseorang. Ada juga lapisan makna halus yang bisa ditafsirkan sebagai referensi pada bondage dalam konteks keintiman, menambah kompleksitas dan sensualitas. Hasilnya terasa hipnotis: bayangkan dua penari bertopeng yang terkunci dalam waltz lambat dan penuh demam, setiap gerakannya berdenyut dengan makna yang tak terucapkan.
“Unstoppable,” lagu penutup sebelum akhir, mengarah ke wilayah anthem tetapi belum sepenuhnya sampai. Dengan judul seperti itu, ekspektasi memang tinggi untuk sesuatu yang garang, penuh semangat, dan memancarkan energi tanpa kompromi yang selama ini menjadi ciri grup ini. Sayangnya, lagu ini terasa sedikit kurang nendang: tidak cukup garang untuk jadi lagu perlawanan, tapi juga tidak cukup ringan untuk jadi banger pop. Hasilnya berada di tengah-tengah — ruang yang bisa terasa kurang menggigit jika tidak benar-benar memilih arah. Meski begitu, high note Miyeon yang melengkung tinggi dan chorus yang membangkitkan semangat memberi lagu ini penyelamat, menambahkan cukup percikan untuk membuatnya tetap bertahan.
We Are ditutup dengan "If You Want", lagu lembut dan hangat yang ditulis oleh member Shuhua. Lagu ini menangkap keintiman dari gestur-gestur kecil — tangan yang digenggam, telapak yang tersentuh ringan, bisikan penenang bahwa semuanya akan baik-baik saja. Semua member menampilkan vokal indah mereka dalam ballad yang penuh kelembutan ini, menciptakan momen yang halus namun kuat, memancarkan kehangatan, empati, dan koneksi emosional. Ini menjadi pengingat lembut bahwa diam bisa menjadi kekuatan, dan kesendirian bisa menjadi jalan menuju penyembuhan.
i-dle telah memulai bab baru dalam karier mereka, ditandai oleh funk, api, dan keberanian yang sama seperti yang membentuk identitas musik mereka tujuh tahun lalu. Lewat We Are, para member, meski sudah utuh dalam diri mereka masing-masing, sengaja menyisakan satu ruang kosong: undangan terbuka bagi pertumbuhan, perubahan, dan hal-hal tak terduga. Ini adalah bukti keyakinan mereka bahwa apa pun tantangan atau hambatan yang datang, mereka akan tetap utuh. Bagaimanapun juga, mereka adalah satu kesatuan.
We Are oleh i-dle kini tersedia melalui CUBE Entertainment.