AMPERS&ONE

Live in London: Sebuah Debut Live yang Layak Diingat

Oleh Hasan Beyaz

Foto oleh Ryan Coleman

AMPERS&ONE datang ke London dengan sesuatu yang ingin mereka buktikan. Kota ini menjadi pemberhentian terakhir dari leg Eropa tur 2026 mereka, ‘Born To Define’ – sekaligus tur Eropa pertama grup tersebut – setelah tampil di Berlin, Warsaw, Amsterdam, Paris, dan Cologne. Usai memulai tur yang lebih besar di Seoul pada Mei dan melintasi Amerika Serikat serta Asia, grup beranggotakan tujuh orang ini tiba di tujuan terakhir mereka di Eropa dengan pengalaman yang sudah cukup panjang. London bukan sekadar pemberhentian lain, melainkan puncak dari perjalanan pertama mereka ke benua ini.

Maknanya sudah terasa bahkan sebelum mereka naik ke panggung. Pada pukul 8 malam, ruangan sudah penuh sesak oleh fans, nyaris tak ada ruang untuk berdiri, sementara sorot lampu merah menggantung di atas dan sebuah spotlight menyapu logo tur yang terpampang di latar panggung. Ini adalah suasana yang sangat tepat bagi grup yang akan melihat seberapa riuh London bisa bersuara.

Saat lampu akhirnya padam, respons yang muncul langsung terasa. AMPERS&ONE tampil untuk "GOD" dengan balutan busana hitam berlapis jubah, sambil mengangkat kipas ke udara ketika lagu pembuka itu membangun klimaks menuju dance break penutup yang dramatis. "What You Talking About" menjaga momentum tetap tinggi; sebuah kostum reveal melepas jubah mereka dan memperlihatkan outfit serba hitam yang sleek di baliknya. "I’m Down" mendorong tempo lebih jauh lagi dengan beat yang menghentak.

Yang hampir langsung terasa adalah kendali alami grup ini atas panggung. Sejak ment pertama, AMPERS&ONE tampak benar-benar berenergi karena ruangan itu, bukan sekadar menjalankan gerakan wajib dari sebuah tur. “We in London fam,” seru Mackiah. “You guys are really hyped.” Brian mengatakan kepada penonton betapa mereka sangat ingin datang ke London, dan betapa senangnya mereka akhirnya bisa berada di sini.

Ketika para member bertanya siapa yang melihat AMPERS&ONE untuk pertama kalinya, cukup banyak tangan yang langsung terangkat—sesuatu yang memang tidak mengejutkan mengingat ini adalah langkah pertama mereka ke sisi dunia ini. Reaksi dari grup pun seketika. Mackiah menyebut ini sebagai penonton paling riuh sepanjang tur sejauh ini—sebuah pernyataan yang, dengan gemuruh yang terus mengalir dari ruangan, terasa bukan seperti materi konser yang sudah disiapkan, melainkan observasi yang tulus. “I heard London has the best energy ever,” tambahnya. Grup senior FNC Entertainment, SF9 dan P1Harmony, sama-sama sudah beberapa kali datang ke Inggris, jadi kota ini bukan wilayah yang asing bagi perusahaan tersebut. Namun bagi AMPERS&ONE, ini adalah pengalaman pertama mereka merasakan penonton London — dan mereka tampak bertekad memaksimalkan momen itu.

Energi itu kemudian berubah menjadi semacam dialog sepanjang malam. Setelah "Hit Me Up" — lengkap dengan gerakan khas merge-and-jump — dan "Slide", para member bertanya kepada penonton lagu mana yang lebih mereka sukai. London memilih "Slide". Momen ini kecil, tetapi mewakili betapa konsistennya AMPERS&ONE melibatkan penonton, alih-alih memperlakukan mereka sebagai penonton pasif.

Insting yang sama juga terbawa ke bagian cover malam itu, yang memberi ruang bagi member individual untuk keluar dari warna suara grup biasanya. Kamden dan Jiho membawakan "Fever" milik ENHYPEN, dengan koreografi yang berakar pada sensualitas; Brian dan Kryell membalik total suasana untuk "Love Story" milik Taylor Swift, tampil dengan styling preppy dan melempar mawar ke arah penonton; sementara Siyun, Mackiah, dan Seungmo menampilkan "Drag Me Down" milik One Direction, pilihan yang terasa sangat pas untuk penonton London.

Para member jelas juga sudah melakukan riset mereka. Kamden mengungkapkan bahwa datang ke London berarti mengunjungi Camden Town—tentu saja—dan ia juga sudah mencari rekomendasi tempat fish and chips sebelum menyebutkan favoritnya. Belakangan, Mackiah muncul dengan observasi lain: “We could hear you through our IEMs.” Fakta bahwa penonton cukup kencang hingga menembus in-ear monitors mereka disambut dengan kegembiraan yang sudah bisa ditebak, tetapi ia melangkah satu tingkat lebih jauh lagi dengan menyelipkan meme “love for dat” yang kini ikonik ke dalam obrolan, dan membuat ruangan kembali heboh. Itu adalah momen yang sangat khas London, dan bukti bahwa AMPERS&ONE memahami penonton di hadapan mereka.

Ada ketulusan dalam antusiasme mereka yang bertahan sepanjang malam. Mereka berbicara tentang London sebagai kota impian dan merefleksikan semua yang telah mereka capai selama tur, tetapi sentimen itu tidak pernah terasa terpisah dari penampilan itu sendiri. Mereka tampak benar-benar senang bisa berada di sini — dan antusiasme itu pun dibalas dengan hal yang sama.

Setlist-nya cukup panjang, melampaui 20 lagu dan memberi grup banyak kesempatan untuk menunjukkan jangkauan mereka. Paruh kedua perlahan bergeser dari momen-momen yang lebih ringan dan cute dari lagu seperti "He + She = We" menuju deretan materi yang lebih berat, dengan "Broken Heart" yang terbukti sangat efektif. Banyaknya killing part membuat penonton nyaris terus-menerus menjerit, sementara "My Way" yang bernuansa drill terasa seolah memang dibuat khusus untuk malam di London, dengan produksi yang lebih tajam dan selaras dengan identitas musik kota ini. Sementara itu, "Get Famous" hampir tak perlu dijelaskan: judulnya yang terang-terangan terasa memang dirancang untuk ruangan yang ingin membuat AMPERS&ONE benar-benar menjadi seperti itu.

Saat encore yang didominasi dance-pop akhirnya datang, hampir tak ada tanda-tanda penonton mulai lelah. Fans melompat serempak bersama para member, yang tampak sama-sama bertekad untuk menjaga malam itu tetap berjalan. Lalu datang encore kedua yang mengejutkan: remix EDM dari "My Way", yang membuat ruangan kembali bergerak untuk terakhir kalinya sebelum AMPERS&ONE akhirnya menghilang dari panggung, menutup tur ‘Born To Define’ mereka dengan akhir yang sangat eksplosif.

Bagi grup yang baru menjalani debut tur Eropa, AMPERS&ONE meninggalkan London dengan penampilan yang terasa jauh lebih besar daripada ukuran ruangan yang mereka isi. Kehadiran panggung mereka sudah matang, setlist mereka cukup beragam untuk menopang pertunjukan panjang, dan—mungkin yang paling penting—mereka sudah tahu bagaimana membuat penonton merasa menjadi bagian aktif dari penampilan.

Penonton London mungkin sudah siap untuk AMPERS&ONE, tetapi dari reaksinya, AMPERS&ONE tampaknya sudah siap untuk panggung yang lebih besar berikutnya.

Cart

×