Era K-Pop yang Sepi Menyingsing di Milan Fashion Week SS27

Oleh Andrea Sacal

Milan Fashion Week sering terasa seperti permainan kursi musik versi luxury. Di satu musim, seorang member BTS muncul di sebuah show dan membuat media sosial heboh. Musim berikutnya, deretan bangku front row yang dipenuhi bintang K-pop mampu mengalahkan koleksi itu sendiri. Keberangkatan dari bandara berubah menjadi momen pelepasan yang siap dikamera, sementara kedatangan di hotel menghasilkan konten yang dilahap jutaan orang. Satu penampilan duta merek saja bisa menghasilkan lalu lintas online yang lebih besar daripada final runway yang dirancang dengan tangan emas Giorgio Armani, Paul Smith, atau puluhan desainer lain di antaranya.

Musim ini, bintang K-pop terkenal absen dari runway Milan. Selain ENHYPEN, Jaehyun, dan Soobin, Milan Fashion Week kehilangan hiruk-pikuk fandom yang biasanya dipimpin oleh member BTS seperti Jin dan RM, member Stray Kids HyunJin, dan lainnya. Spring/Summer 2027 terasa lebih hening dan mengejutkan lebih terpusat. Alih-alih banyak rumah mode saling berebut perhatian lewat front row yang penuh duta merek, sebagian besar percakapan berputar di sekitar Prada dan hubungan yang kian kuat dengan ENHYPEN serta Jaehyun dari NCT, sementara Dolce & Gabbana memunculkan buzz lewat Soobin dari TXT.

Pertanyaannya bukan lagi ke mana perginya semua bintang K-pop, melainkan apakah Milan Fashion Week sedang memasuki fase baru dalam hubungannya dengan budaya pop Korea secara keseluruhan. Selama bertahun-tahun, brand luxury memperlakukan duta K-pop seperti tiket emas menuju relevansi digital. Rumusnya sederhana: undang idol yang dikenal di seluruh dunia, lihat akun-akun penggemar mendokumentasikan setiap langkah perjalanan mereka, lalu nikmati gelombang engagement yang mengalir dari Seoul hingga runway. Namun, musim terbaru di Milan mengisyaratkan bahwa ledakan para duta merek ini mungkin sedang memasuki fase yang lebih matang. Alih-alih menyebarkan perhatian ke setiap label besar, Prada tampak menguasai percakapan.

Jika fashion luxury adalah panggung, maka Prada telah menghabiskan beberapa tahun terakhir untuk menyusun jajaran pemain K-pop-nya sendiri dengan hati-hati. Rumah mode Italia ini telah membangun hubungan dengan sejumlah bintang K-pop paling berpengaruh di industri, tetapi kemitraannya dengan ENHYPEN terasa sangat mewakili arah yang sedang dituju fashion dan fandom. Saat ketujuh member ENHYPEN tiba di Milan, itu bukan sekadar kemunculan selebritas, melainkan pengingat bahwa grup K-pop telah menjadi aset bagi luxury. Setiap member ENHYPEN membawa audiens, estetika, dan ekosistem yang digerakkan penggemar masing-masing, menciptakan efek berlipat yang sulit disaingi oleh kebanyakan selebritas tradisional.

Di bawah arahan kreatif Miuccia Prada dan Raf Simons, raksasa mode Italia ini mengadopsi visi maskulinitas modern yang cair, intelektual, dan kadang terasa canggung. Citra ENHYPEN yang rapi namun tetap muda masuk dengan mulus ke dalam dunia itu, membantu Prada berkomunikasi dengan generasi konsumen yang semakin sering mengalami luxury lewat layar ponsel sebelum datang ke butik.

Di sisi lain, hubungan Jaehyun dengan Prada telah menjadi salah satu contoh paling sukses dari kemitraan duta merek yang terasa benar-benar saling menguntungkan. Jaehyun selalu memiliki kualitas yang paling dicari brand luxury: gaya yang effortless, daya tarik internasional yang luas, dan kemampuan membuat bahkan item paling rumit terlihat surprisingly wearable. Kehadirannya membantu menjembatani jarak antara reputasi Prada yang intelektual dan audiens yang lebih muda yang mungkin melihat rumah mode ini sebagai ruang eksklusif untuk orang dalam. 

Di tempat lain, hubungan Dolce & Gabbana dengan Soobin dari TXT menawarkan cetak biru yang sedikit berbeda. Brand ini sejak lama merangkul budaya selebritas sebagai bagian dari DNA-nya, dan sejarahnya dengan K-pop berasal dari playbook yang panjang. Sebagai salah satu wajah TXT yang paling mudah dikenali, Soobin mewujudkan citra yang lebih lembut, yang menantang arketipe yang selama ini diasosiasikan dengan luxury menswear. Kehadirannya mencerminkan pergeseran yang terus berkembang dalam kebiasaan konsumen luxury – pelanggan masa kini sama mungkinnya terinspirasi oleh outfit bandara seorang idol seperti oleh tuksedo red carpet seorang pemenang Oscar.

Kemitraan yang paling kuat kini bukan lagi sekadar penampilan transaksional, melainkan penyelarasan budaya jangka panjang. Tujuannya bukan hanya menempatkan seorang idol di bangku front row, tetapi membangun hubungan yang mampu diterjemahkan lintas kampanye, media sosial, pengalaman retail, dan inisiatif global. Kehadiran K-pop yang relatif sederhana di Milan Fashion Week justru bisa jadi menandakan babak yang lebih matang dalam evolusi industri ini.

Perlombaan duta merek belum tentu berakhir. Paris Fashion Week hampir pasti akan menampilkan parade kemunculan yang mencuri perhatian seperti biasanya, tetapi Milan memberi sekilas gambaran yang berbeda: sebuah lanskap ketika lebih sedikit artis bisa menghasilkan dampak yang sama besarnya. Kemitraan paling kuat di industri ini sudah melampaui tahap kejutan semata, membentuk infrastrukturnya dengan kehadiran yang condong ke K-pop dan melampaui front row. Walaupun ENHYPEN, Jaehyun, dan Soobin menggantikan nama-nama yang lebih tradisional musim ini, mereka menandakan bahwa kekuatan budaya K-pop telah menjadi elemen penting bagi sistem fashion. Para superstar ini bukan hanya duta yang membawa perhatian ke Prada dan Dolce & Gabbana, melainkan membantu mendefinisikan ulang seperti apa pengaruh luxury di era pasca-selebritas. Penggemar K-pop tidak hanya mengamati: mereka ikut berpartisipasi, menganalisis outfit, melacak penampilan di runway, dan mengubah momen fashion week menjadi peristiwa budaya yang hidup jauh melampaui jalanan berbatu Milan. ENHYPEN, Jaehyun, dan Soobin bukan sekadar mempromosikan, tetapi membangun komunitas melalui aliansi fashion. Dan pada 2026, komunitas mungkin menjadi komoditas paling berharga dari semuanya.

Cart

×